Jump to content
Main menu
Main menu
move to sidebar
hide
Navigation
Main page
Recent changes
Random page
Help about MediaWiki
Special pages
Ensiklopedi Polahi
Search
Search
Appearance
Create account
Log in
Personal tools
Create account
Log in
Pages for logged out editors
learn more
Contributions
Talk
Editing
Molapo
Page
Discussion
English
Read
Edit
Edit source
View history
Tools
Tools
move to sidebar
hide
Actions
Read
Edit
Edit source
View history
General
What links here
Related changes
Page information
Appearance
move to sidebar
hide
Warning:
You are not logged in. Your IP address will be publicly visible if you make any edits. If you
log in
or
create an account
, your edits will be attributed to your username, along with other benefits.
Anti-spam check. Do
not
fill this in!
'''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]''' merupakan ritual pengasapan lahan pertanian yang dilakukan oleh ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]'' sebagai bagian dari praktik pertanian tradisional masyarakat Polahi. Ritual ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari serangan hama, terutama ulat, serta menjaga keberlangsungan pertumbuhan tanaman. Dalam satu siklus tanam, ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]'' umumnya melaksanakan ritual ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]'' sebanyak tiga hingga lima kali. Pelaksanaannya tidak terikat pada waktu tertentu, melainkan disesuaikan dengan kondisi tanaman atau berdasarkan permintaan pemilik lahan. Ritual ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]'' dilaksanakan melalui dua metode, yaitu dengan melakukan prosesi di bagian tengah lahan pertanian dalam posisi setengah jongkok atau dengan mengelilingi lahan dari satu sudut ke sudut lainnya. Bahan-bahan yang digunakan meliputi serabut kelapa, kemenyan, serai, dan rumah madu. Seluruh bahan tersebut dibakar di atas batok kelapa hingga menghasilkan asap. Selama proses pengasapan berlangsung, ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]'' mengucapkan doa sebagai bentuk permohonan kepada leluhur dan makhluk penjaga agar tanaman terhindar dari gangguan hama. Setelah prosesi doa selesai, wadah berisi bahan pengasapan dibawa mengelilingi lahan, kemudian diletakkan di bagian tengah kebun sebagai penutup ritual<sup>[[Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). Siasah. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak|2]]</sup>. [[File:Pengasapan ilustarasi (1).png|alt=/* Membatasi ukuran maksimal gambar yang tidak menggunakan format thumbnail agar menjadi kecil */ .mw-parser-output a.image img { max-width: 300px !important; height: auto !important; } .mw-parser-output img { max-width: 100%; height: auto; }|thumb|300x300px|ilustrasi]] Seiring dengan berkurangnya jumlah ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]'', praktik ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]'' juga semakin jarang dilakukan. Kepercayaan terhadap efektivitas ritual ini umumnya masih dipertahankan oleh generasi yang lebih tua, sedangkan sebagian besar masyarakat mulai bersikap skeptis akibat perubahan budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa pandangan, ritual tersebut bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Namun demikian, jika ditinjau dari perspektif pertanian berkelanjutan, ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]'' dapat dipahami sebagai praktik pengendalian hama yang memanfaatkan bahan-bahan alami sehingga berpotensi mendukung keseimbangan ekosistem dan menjaga siklus kehidupan organisme. Dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis yang berisiko menurunkan keanekaragaman hayati serta menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, teknik pengasapan tradisional ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekologis yang perlu dikaji lebih lanjut<sup>[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), " Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]</sup>. Salah satu bacaan pada ritual Molapo : <blockquote>''E baya Moyito, baya lalahu'' ''Baya mela, baya mopiti'' ''Diya鈥檃 u鈥檕tawa鈥檜'' ''Wa鈥檜 bungolo pito鈥檕'' ''Pilomulo鈥檜 po鈥檌鈥檃sati鈥檜 olimongoli'' ''Huyi waw dulahu'' ''Mahaluku li mongoli pintha poma鈥檕 teye'' ''Wonu dila pintha limongoli'' ''Mo pulito lo puwa鈥檜 (pate-pate鈥檜)''</blockquote>Menurut masyarakat Polahi, mereka tidak pernah mengalami kekurangan makanan selama hidup di hutan. Bahkan, mereka memiliki tempat khusus bernama ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 sabuwa]'' untuk menyimpan padi. Padi tersebut kemudian ditumbuk sesuai kebutuhan untuk dikonsumsi pada hari itu. Masyarakat Polahi dengan tradisi dan teknik berkebun yang diwariskan secara turun-temurun, Selain tradisi [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo], mereka juga meyakini bahwa keberhasilan panen bergantung pada kepatuhan terhadap empat pantangan berikut : 路 聽 聽 聽 聽Tidak makan malam jika lampu mati. 路 聽 聽 聽 聽Tidak boleh melewati orang yang sedang makan. 路 聽 聽 聽 聽Padi tidak boleh diletakkan di atas beras. 路 聽 聽 聽 聽Tidak diperbolehkan makan sebelum menanam.<blockquote></blockquote>Apabila tanaman yang telah tumbuh terserang penyakit atau hama, maka ritual yang dilakukan oleh masyarakat Polahi adalah ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]'' atau (''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo olo, tapo:lo])'' istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo] ''"[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo]".'' merujuk pada ahli pengobatan/penyembuhan tradisiona yang melakukan ritual membawa tempurung berisi bara api yang ditaburi kemenyan, lalu dibacakan doa atau mantra tertentu. salah satu do'a yang dibacakan adalah : <blockquote>''Assalam alaikum Nabi Sulaiman, molopu nganga鈥檃mi'' ''Nabi-nabi kulo, molopu mominthohulo'' ''Wanu dila mohalahu, mali tilo mali wahu'' ''Wanu dila lumahilo, mali wahu mali tilo''</blockquote> Dalam ritual ''[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]'' terdapat dua catatan penting. Pertama, kemenyan yang digunakan tidak boleh berasal dari pohon damar. Kedua, setelah ritual dilaksanakan, masyarakat dilarang pergi ke kebun selama tiga hari. == Referensi == # <small>Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( '''2025),''' " '''Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa ''Masyarakat Adat Polahi'' Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab'''</small> # <small>Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak</small>
Summary:
Please note that all contributions to Ensiklopedi Polahi may be edited, altered, or removed by other contributors. If you do not want your writing to be edited mercilessly, then do not submit it here.
You are also promising us that you wrote this yourself, or copied it from a public domain or similar free resource (see
Ensiklopedi Polahi:Copyrights
for details).
Do not submit copyrighted work without permission!
Cancel
Editing help
(opens in new window)
Search
Search
Editing
Molapo
Add topic