Tombito

Tombito, (sering disebut tombitoo atau pedito) masyarakat Polahi menggunakan daun woka tanaman palem (Livistona rotundifolia) tombito (atau pedito) sebagai penutup tubuh atau cawat yang dibuat dari anyaman daun woka (sejenis palem hutan/daun lontar). Tanaman ini tumbuh subur di hutan Gorontalo dan Sulawesi Utara, tombito adalah nama lokal untuk tanaman palem hutan dengan nama ilmiah Licuala celebica. Secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat Gorontalo sebagai pembungkus kuliner khas (seperti duduli/dodol) serta dekorasi adat.
Livistona rotundifolia (Palem Sadeng/Woka) dan Licuala celebica (Palem Tombuto) adalah dua jenis palem kipas endemik khas Sulawesi. Perbedaan utamanya terletak pada ukuran postur pohon, bentuk tajuk daun, dan kegunaannya.
Berikut adalah rincian perbedaan keduanya:
| Kriteria | Livistona rotundifolia
(Palem Sadeng / Woka) |
Licuala celebica
(Palem Tombuto) |
| Tinggi Pohon | Tumbuh tinggi menjulang, bisa mencapai \(15\) meter. | Tumbuh pendek, jarang mencapai \(4\) meter (berperawakan semak/rendah). |
| Bentuk Daun | Daun lebar, bundar menyerupai kipas besar. | Daun berupa kipas atau jari-jari yang berukuran lebih kecil (panjang helaian \(\approx 45 \text{ cm}\)). |
| Batang | Batang soliter (tunggal), keras, dan bertekstur kasar. | Batang kecil, biasanya bergerombol atau tumbuh merumpun di dekat permukaan tanah. |
| Fungsi / Manfaat | Daun mudanya sering dipakai untuk atap rumah dan pembungkus makanan tradisional (misal: nasi kuning, dodol, gula merah). | Daun muda lebih banyak diandalkan sebagai bahan anyaman atap rumah dan pembungkus gula aren tradisional. |