<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
	<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Admin</id>
	<title>Ensiklopedi Polahi - User contributions [en]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Admin"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Special:Contributions/Admin"/>
	<updated>2026-08-29T01:51:42Z</updated>
	<subtitle>User contributions</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.45.3</generator>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Hulapa&amp;diff=96</id>
		<title>Hulapa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Hulapa&amp;diff=96"/>
		<updated>2026-08-11T01:43:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Bambu hulapa.jpg|thumb|400x400px]]&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa], adalah istilah dalam bahasa Gorontalo untuk salah satu jenis bambu berukuran kecil dengan batang yang relatif tipis, lurus, dan ringan. Bambu ini merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Polahi untuk berbagai keperluan sehari-hari, terutama sebagai bahan perkakas sederhana, bahan anyaman, serta kebutuhan pertanian.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri umumnya batang berukuran kecil dan ramping, diameter batang relatif tipis, bentuk batang lurus dan memanjang, ruas-ruas batang tampak jelas, batang muda berwarna hijau, sedangkan batang yang telah tua atau dikeringkan dapat berwarna kekuningan hingga cokelat muda, relatif ringan sehingga mudah dipotong dan dibawa, dan dapat digunakan dalam bentuk batang utuh maupun dibelah menjadi bagian yang lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa] dapat ditemukan pada lingkungan dengan kondisi tanah dan kelembapan tertentu, baik di kawasan dataran rendah maupun daerah perbukitan. Literatur mengenai bambu Gorontalo menyebut hulapa dapat tumbuh di dataran rendah maupun pegunungan dengan kondisi kadar air yang relatif rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama hulapa juga memiliki keterkaitan dengan lingkungan geografis Gorontalo. [https://www.google.com/maps/place/Saronde+Island+Resort/@0.9409392,122.5516633,69547m/data=!3m1!1e3!4m20!1m10!3m9!1s0x32795bc5fa9f6b23:0x175765bac2ee97b8!2sSaronde+Island+Resort!5m2!4m1!1i2!8m2!3d0.9264378!4d122.8640454!16s%2Fg%2F11sjfsgw_h!3m8!1s0x32795bc5fa9f6b23:0x175765bac2ee97b8!5m2!4m1!1i2!8m2!3d0.9264378!4d122.8640454!16s%2Fg%2F11sjfsgw_h?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDgwNS4xIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pulau Saronde], misalnya, dahulu dikenal masyarakat sekitar sebagai Lito Hulapa atau Pulau Hulapa, yang dikaitkan dengan keberadaan bambu kecil di pulau tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa] mempunyai berbagai kegunaan dalam kehidupan masyarakat Polahi. contoh untuk keperluan perkebunan. batangnya dapat digunakan sebagai ajir atau tongkat penyangga tanaman, terutama untuk tanaman yang membutuhkan penopang, biasa digunakan untuk tempat merambatnya tanaman kacang panjang atau ketimun. Bentuknya yang lurus, ringan, dan mudah ditancapkan ke tanah menjadikannya praktis digunakan di kebun. Batang bambu ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat berbagai bentuk anyaman dan konstruksi sederhana. Penelitian mengenai tumbuhan di kawasan Gorontalo mencatat penggunaan bambu lokal, termasuk hulapa, untuk pembuatan anyaman bilik bambu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa] juga memiliki hubungan dengan kebudayaan material masyarakat Polahi. Bambu kecil ini bisa digunakan untuk membuat alat musik seruling. Nama Lito Hulapa pada Pulau Saronde juga dikaitkan dengan keberadaan bambu kecil yang dimanfaatkan untuk membuat seruling.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hulapa tidak hanya mempunyai nilai sebagai tumbuhan, tetapi juga memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo. Pemanfaatannya sebagai bahan perkebunan, kerajinan, alat rumah tangga, dan alat musik menunjukkan bahwa bambu merupakan bagian dari pengetahuan ekologis dan teknologi tradisional masyarakat Gorontalo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Hulapa&amp;diff=95</id>
		<title>Hulapa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Hulapa&amp;diff=95"/>
		<updated>2026-08-11T01:29:43Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Bambu hulapa.jpg|thumb|400x400px]]&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa], adalah istilah dalam bahasa Gorontalo untuk salah satu jenis bambu berukuran kecil dengan batang yang relatif tipis, lurus, dan ringan. Bambu ini merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Polahi untuk berbagai keperluan sehari-hari, terutama sebagai bahan perkakas sederhana, bahan anyaman, serta kebutuhan pertanian.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri umumnya batang berukuran kecil dan ramping, diameter batang relatif tipis, bentuk batang lurus dan memanjang, ruas-ruas batang tampak jelas, batang muda berwarna hijau, sedangkan batang yang telah tua atau dikeringkan dapat berwarna kekuningan hingga cokelat muda, relatif ringan sehingga mudah dipotong dan dibawa, dan dapat digunakan dalam bentuk batang utuh maupun dibelah menjadi bagian yang lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa] dapat ditemukan pada lingkungan dengan kondisi tanah dan kelembapan tertentu, baik di kawasan dataran rendah maupun daerah perbukitan. Literatur mengenai bambu Gorontalo menyebut hulapa dapat tumbuh di dataran rendah maupun pegunungan dengan kondisi kadar air yang relatif rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama hulapa juga memiliki keterkaitan dengan lingkungan geografis Gorontalo. Pulau Saronde, misalnya, dahulu dikenal masyarakat sekitar sebagai Lito Hulapa atau Pulau Hulapa, yang dikaitkan dengan keberadaan bambu kecil di pulau tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa] mempunyai berbagai kegunaan dalam kehidupan masyarakat Polahi. contoh untuk keperluan perkebunan. batangnya dapat digunakan sebagai ajir atau tongkat penyangga tanaman, terutama untuk tanaman yang membutuhkan penopang, biasa digunakan untuk tempat merambatnya tanaman kacang panjang atau ketimun. Bentuknya yang lurus, ringan, dan mudah ditancapkan ke tanah menjadikannya praktis digunakan di kebun. Batang bambu ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat berbagai bentuk anyaman dan konstruksi sederhana. Penelitian mengenai tumbuhan di kawasan Gorontalo mencatat penggunaan bambu lokal, termasuk hulapa, untuk pembuatan anyaman bilik bambu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=2936 Hulapa] juga memiliki hubungan dengan kebudayaan material masyarakat Polahi. Bambu kecil ini bisa digunakan untuk membuat alat musik seruling. Nama Lito Hulapa pada Pulau Saronde juga dikaitkan dengan keberadaan bambu kecil yang dimanfaatkan untuk membuat seruling.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hulapa tidak hanya mempunyai nilai sebagai tumbuhan, tetapi juga memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo. Pemanfaatannya sebagai bahan perkebunan, kerajinan, alat rumah tangga, dan alat musik menunjukkan bahwa bambu merupakan bagian dari pengetahuan ekologis dan teknologi tradisional masyarakat Gorontalo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Bambu_hulapa.jpg&amp;diff=94</id>
		<title>File:Bambu hulapa.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Bambu_hulapa.jpg&amp;diff=94"/>
		<updated>2026-08-11T01:29:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumentasi soga&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Hulapa&amp;diff=93</id>
		<title>Hulapa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Hulapa&amp;diff=93"/>
		<updated>2026-08-11T01:13:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;Hulapa, adalah istilah dalam bahasa Gorontalo untuk salah satu jenis bambu berukuran kecil dengan batang yang relatif tipis, lurus, dan ringan. Bambu ini merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Polahi untuk berbagai keperluan sehari-hari, terutama sebagai bahan perkakas sederhana, bahan anyaman, serta kebutuhan pertanian.  Hulapa memiliki ciri umum berupa:  batang berukuran kecil dan ramping; diameter batang relatif tipis; bentuk batang lurus dan meman...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hulapa, adalah istilah dalam bahasa Gorontalo untuk salah satu jenis bambu berukuran kecil dengan batang yang relatif tipis, lurus, dan ringan. Bambu ini merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Polahi untuk berbagai keperluan sehari-hari, terutama sebagai bahan perkakas sederhana, bahan anyaman, serta kebutuhan pertanian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hulapa memiliki ciri umum berupa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
batang berukuran kecil dan ramping;&lt;br /&gt;
diameter batang relatif tipis;&lt;br /&gt;
bentuk batang lurus dan memanjang;&lt;br /&gt;
ruas-ruas batang tampak jelas;&lt;br /&gt;
batang muda berwarna hijau, sedangkan batang yang telah tua atau dikeringkan dapat berwarna kekuningan hingga cokelat muda;&lt;br /&gt;
relatif ringan sehingga mudah dipotong dan dibawa;&lt;br /&gt;
dapat digunakan dalam bentuk batang utuh maupun dibelah menjadi bagian yang lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hulapa dapat ditemukan pada lingkungan dengan kondisi tanah dan kelembapan tertentu, baik di kawasan dataran rendah maupun daerah perbukitan. Literatur mengenai bambu Gorontalo menyebut hulapa dapat tumbuh di dataran rendah maupun pegunungan dengan kondisi kadar air yang relatif rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama hulapa juga memiliki keterkaitan dengan lingkungan geografis Gorontalo. Pulau Saronde, misalnya, dahulu dikenal masyarakat sekitar sebagai Lito Hulapa atau Pulau Hulapa, yang dikaitkan dengan keberadaan bambu kecil di pulau tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hulapa mempunyai berbagai kegunaan dalam kehidupan masyarakat Polahi. contoh untuk keperluan perkebunan. batangnya dapat digunakan sebagai ajir atau tongkat penyangga tanaman, terutama untuk tanaman yang membutuhkan penopang, biasa digunakan untuk tempat merambatnya tanaman kacang panjang atau ketimun. Bentuknya yang lurus, ringan, dan mudah ditancapkan ke tanah menjadikannya praktis digunakan di kebun. Batang bambu ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat berbagai bentuk anyaman dan konstruksi sederhana. Penelitian mengenai tumbuhan di kawasan Gorontalo mencatat penggunaan bambu lokal, termasuk hulapa, untuk pembuatan anyaman bilik bambu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hulapa juga memiliki hubungan dengan kebudayaan material masyarakat Polahi. Bambu kecil ini bisa digunakan untuk membuat alat musik seruling. Nama Lito Hulapa pada Pulau Saronde juga dikaitkan dengan keberadaan bambu kecil yang dimanfaatkan untuk membuat seruling.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hulapa tidak hanya mempunyai nilai sebagai tumbuhan, tetapi juga memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo. Pemanfaatannya sebagai bahan perkebunan, kerajinan, alat rumah tangga, dan alat musik menunjukkan bahwa bambu merupakan bagian dari pengetahuan ekologis dan teknologi tradisional masyarakat Gorontalo.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Raja_Polahi_Babuta&amp;diff=92</id>
		<title>Raja Polahi Babuta</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Raja_Polahi_Babuta&amp;diff=92"/>
		<updated>2026-07-30T01:05:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Te Raja .png|alt=Dokumentasi, Soga|border|thumb|327x327px|Raja]]&lt;br /&gt;
Babuta, adalah masyarakat Polahi dari keturunan Baba Niyo dan Ta Aniyo atau Anthuyingo. yang pernah diliput oleh tim ekspedisi TVRI pada tahun 1995. Pasangan ini memiliki 3 anak yaitu: Halimu, Babuta (Te Raja), Laiya (Te Kambo). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=91</id>
		<title>Bapu Yunus Nani</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=91"/>
		<updated>2026-07-30T01:03:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Bapu Yunus Nani 1.png|thumb|276x276px|Masyarakat Polahi, Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bapu Yunus Nani&#039;&#039;&#039;, adalah salah satu dari lima orang masyarakat Polahi yang telah hidup membaur dengan masyarakat di Desa Bihe Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah Desa Bihe memberikan fasilitas tempat tinggal berupa satu unit Mahayani (Rumah Layak Huni) kepada Bapu Yunus Nani. Rumah tersebut terletak di belakang masjid dan berdampingan dengan [https://www.google.com/maps/place/Kantor+Desa+Bihe/@0.7796272,122.4057216,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x3279758fdbee14a7:0xb177ed67346e7064!8m2!3d0.7796218!4d122.4082965!16s%2Fg%2F11h4npzr3r!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Kantor Desa Bihe]. Pada bulan September 2024, Kementerian Pariwisata menetapkan Desa Bihe sebagai salah satu dari 50 desa penerima Anugerah Desa Wisata (ADWI). Penghargaan ini disampaikan oleh [https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Dessy_Ruhati.jpg Dessy Ruhati], Deputi Bidang Kebijakan Strategis. &amp;lt;blockquote&amp;gt;Bapu Yunus Nani, (Menggunakan bahasa daerah) artinya : &#039;&#039;perhatian pemerintah terhadap masyarakat Polahi di desa ini tergolong besar. Mereka secara rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah desa maupun Dinas Sosial. Selain rumah Mahayani, pemerintah juga menyediakan alat tempa besi sebagai upaya pemberdayaan ekonomi bagi Bapu Yunus Nani. Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa permintaan jasa pembuatan atau perbaikan pisau dan parang tidak terjadi setiap hari. Dalam satu bulan, terkadang hanya satu hingga dua orang yang datang, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Peningkatan permintaan biasanya terjadi menjelang momen-momen besar seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, awal Ramadan, atau saat musim panen tiba di kebun maupun sawah&#039;&#039;.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=90</id>
		<title>Bapu Yunus Nani</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=90"/>
		<updated>2026-07-30T01:00:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Bapu Yunus Nani 1.png|thumb|276x276px|Masyarakat Polahi, Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bapu Yunus Nani&#039;&#039;&#039;, adalah salah satu dari lima orang masyarakat Polahi yang telah hidup membaur dengan masyarakat di Desa Bihe Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah Desa Bihe memberikan fasilitas tempat tinggal berupa satu unit Mahayani (Rumah Layak Huni) kepada Bapu Yunus Nani. Rumah tersebut terletak di belakang masjid dan berdampingan dengan [https://www.google.com/maps/place/Kantor+Desa+Bihe/@0.7796272,122.4057216,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x3279758fdbee14a7:0xb177ed67346e7064!8m2!3d0.7796218!4d122.4082965!16s%2Fg%2F11h4npzr3r!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Kantor Desa Bihe]. Pada bulan September 2024, Kementerian Pariwisata menetapkan Desa Bihe sebagai salah satu dari 50 desa penerima Anugerah Desa Wisata (ADWI). Penghargaan ini disampaikan oleh [https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Dessy_Ruhati.jpg Dessy Ruhati], Deputi Bidang Kebijakan Strategis. &amp;lt;blockquote&amp;gt;Bapu Yunus Nani, (Menggunakan bahasa daerah) artinya : &#039;&#039;perhatian pemerintah terhadap masyarakat Polahi di desa ini tergolong besar. Mereka secara rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah desa maupun Dinas Sosial. Selain rumah Mahayani, pemerintah juga menyediakan alat tempa besi sebagai upaya pemberdayaan ekonomi bagi Bapu Yunus Nani. Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa permintaan jasa pembuatan atau perbaikan pisau dan parang tidak terjadi setiap hari. Dalam satu bulan, terkadang hanya satu hingga dua orang yang datang, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Peningkatan permintaan biasanya terjadi menjelang momen-momen besar seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, awal Ramadan, atau saat musim panen tiba di kebun maupun sawah&#039;&#039;.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;small&amp;gt;[https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Special:Categories?from=profil Kategori:Profil]&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=89</id>
		<title>Bapu Yunus Nani</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=89"/>
		<updated>2026-07-30T00:59:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Bapu Yunus Nani 1.png|thumb|276x276px|Masyarakat Polahi, Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bapu Yunus Nani&#039;&#039;&#039;, adalah salah satu dari lima orang masyarakat Polahi yang telah hidup membaur dengan masyarakat di Desa Bihe Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah Desa Bihe memberikan fasilitas tempat tinggal berupa satu unit Mahayani (Rumah Layak Huni) kepada Bapu Yunus Nani. Rumah tersebut terletak di belakang masjid dan berdampingan dengan [https://www.google.com/maps/place/Kantor+Desa+Bihe/@0.7796272,122.4057216,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x3279758fdbee14a7:0xb177ed67346e7064!8m2!3d0.7796218!4d122.4082965!16s%2Fg%2F11h4npzr3r!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Kantor Desa Bihe]. Pada bulan September 2024, Kementerian Pariwisata menetapkan Desa Bihe sebagai salah satu dari 50 desa penerima Anugerah Desa Wisata (ADWI). Penghargaan ini disampaikan oleh [https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Dessy_Ruhati.jpg Dessy Ruhati], Deputi Bidang Kebijakan Strategis. &amp;lt;blockquote&amp;gt;Bapu Yunus Nani, (Menggunakan bahasa daerah) artinya : &#039;&#039;perhatian pemerintah terhadap masyarakat Polahi di desa ini tergolong besar. Mereka secara rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah desa maupun Dinas Sosial. Selain rumah Mahayani, pemerintah juga menyediakan alat tempa besi sebagai upaya pemberdayaan ekonomi bagi Bapu Yunus Nani. Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa permintaan jasa pembuatan atau perbaikan pisau dan parang tidak terjadi setiap hari. Dalam satu bulan, terkadang hanya satu hingga dua orang yang datang, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Peningkatan permintaan biasanya terjadi menjelang momen-momen besar seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, awal Ramadan, atau saat musim panen tiba di kebun maupun sawah&#039;&#039;.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;small&amp;gt;[[Kategori:Profil]]&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=88</id>
		<title>Bapu Yunus Nani</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=88"/>
		<updated>2026-07-30T00:57:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Bapu Yunus Nani 1.png|thumb|276x276px|Masyarakat Polahi, Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bapu Yunus Nani&#039;&#039;&#039;, adalah salah satu dari lima orang masyarakat Polahi yang telah hidup membaur dengan masyarakat di Desa Bihe Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah Desa Bihe memberikan fasilitas tempat tinggal berupa satu unit Mahayani (Rumah Layak Huni) kepada Bapu Yunus Nani. Rumah tersebut terletak di belakang masjid dan berdampingan dengan [https://www.google.com/maps/place/Kantor+Desa+Bihe/@0.7796272,122.4057216,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x3279758fdbee14a7:0xb177ed67346e7064!8m2!3d0.7796218!4d122.4082965!16s%2Fg%2F11h4npzr3r!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Kantor Desa Bihe]. Pada bulan September 2024, Kementerian Pariwisata menetapkan Desa Bihe sebagai salah satu dari 50 desa penerima Anugerah Desa Wisata (ADWI). Penghargaan ini disampaikan oleh [https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Dessy_Ruhati.jpg Dessy Ruhati], Deputi Bidang Kebijakan Strategis. &amp;lt;blockquote&amp;gt;Bapu Yunus Nani, (Menggunakan bahasa daerah) artinya : &#039;&#039;perhatian pemerintah terhadap masyarakat Polahi di desa ini tergolong besar. Mereka secara rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah desa maupun Dinas Sosial. Selain rumah Mahayani, pemerintah juga menyediakan alat tempa besi sebagai upaya pemberdayaan ekonomi bagi Bapu Yunus Nani. Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa permintaan jasa pembuatan atau perbaikan pisau dan parang tidak terjadi setiap hari. Dalam satu bulan, terkadang hanya satu hingga dua orang yang datang, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Peningkatan permintaan biasanya terjadi menjelang momen-momen besar seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, awal Ramadan, atau saat musim panen tiba di kebun maupun sawah&#039;&#039;.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kategori:Profil]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Lati&amp;diff=87</id>
		<title>Lati</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Lati&amp;diff=87"/>
		<updated>2026-07-20T02:37:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Lati.png|alt=gambar ilustrasi|thumb|375x375px|Lati]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 Lati]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, Dalam bahasa Gorontalo, kata &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 lati]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; umumnya berarti setan, hantu, atau makhluk halus. Kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk merujuk pada hal-hal supranatural, misalnya  &amp;quot;&#039;&#039;walauu mohe lo lati&amp;quot;&#039;&#039;  yang berarti  &amp;quot;anakku takut setan&amp;quot;. Masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; juga memiliki sistem kepercayaan terhadap sejumlah jenis makhluk halus yang mereka yakini menghuni alam sekitar.&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt; Beberapa di antaranya, yaitu  : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.      &#039;&#039;&#039;Lati to hulo’o&#039;&#039;&#039;: makhluk halus yang dipercaya menghuni pohon beringin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.      &#039;&#039;&#039;Lati pulu huta / Pongggo lo huta&#039;&#039;&#039;: makhluk halus penjaga wilayah tanah baru yang hendak dibuka sebagai lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.      &#039;&#039;&#039;Lati to dutula / Punthiyala lo taluhu&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.      &#039;&#039;&#039;Lati bonthula huta / Punthiyala lo tudu liyo&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga tanah datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.      &#039;&#039;&#039;Lati lo botu&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga batu-batu besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.      &#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo]&#039;&#039;&#039;: sosok makhluk halus perempuan yang dipercaya sebagai pemakan jantung atau janin manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepercayaan terhadap makhluk &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo]&#039;&#039; sangat melekat dalam budaya &#039;&#039;Polahi&#039;&#039;. Sosok ini diyakini sering mengincar perempuan hamil dan berusaha memakan janinnya. &amp;lt;sup&amp;gt;2&amp;lt;/sup&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
(Kamaruddin Mustamin dkk, 2021)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Mansoer Pateda, 1977)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Lati.png&amp;diff=86</id>
		<title>File:Lati.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Lati.png&amp;diff=86"/>
		<updated>2026-07-20T02:37:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;gambar ilustrasi&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Ponggo&amp;diff=85</id>
		<title>Ponggo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Ponggo&amp;diff=85"/>
		<updated>2026-07-20T02:24:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Ponggo.png|alt=gambar ilustrasi|thumb|300x300px|ponggo]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo]&#039;&#039;&#039; merupakan salah satu sosok dalam cerita rakyat dan tradisi lisan masyarakat Gorontalo yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam kepercayaan masyarakat Polahi, Ponggo digambarkan sebagai makhluk gaib yang sering dikaitkan dengan tempat-tempat sunyi, seperti hutan, kebun, atau kawasan yang jarang dilalui manusia. Keberadaan Ponggo lebih dikenal melalui cerita, nasihat orang tua, dan berbagai kisah rakyat daripada sebagai bagian dari ajaran keagamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat polahi, Ponggo sering digambarkan memiliki ciri khas berupa suara yang terdengar seperti bunyi &#039;&#039;&#039;&amp;quot;pok-pok-pok&amp;quot;&#039;&#039;&#039;, yang diyakini menjadi penanda kehadirannya. Dalam beberapa versi cerita rakyat, [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] digambarkan sebagai makhluk yang hanya berupa kepala tanpa tubuh dan dapat bergerak atau melayang pada malam hari. Namun, bentuk dan karakteristiknya dapat berbeda-beda di setiap daerah di Gorontalo karena penyampaiannya dilakukan secara lisan dari generasi ke generasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menurut keterangan masyarakat polahi, jika terdengan suara &#039;&#039;&#039;&amp;quot;pok-pok-pok&amp;quot;&#039;&#039;&#039; kencang atau sangat jelas, bertanda ponggo itu berada jauh, dan jika suaranya terdengar pelan atau samar-samar, bertanda [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] berada dekat di sekitar kita. Sebagian masyarakat Gorontalo juga masih percaya akan hal ini. Di beberapa daearah para orang tua melarang putri mereka agar tidak tidur pada saat matahari terbenam. “&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Dila potuluhu lolango no’u, momiyahe ponggo yio&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;” artinya: Jangan Tidur sore-sore nak, nanti kamu bisa melihara [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 ponggo]”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara antropologis, kisah tentang Ponggo memiliki fungsi sosial sebagai media pendidikan dan pengendalian perilaku. Cerita ini kerap digunakan oleh orang tua untuk mengingatkan anak-anak agar tidak bermain hingga larut malam, tidak memasuki hutan atau kebun seorang diri, serta selalu berhati-hati ketika berada di tempat yang dianggap berbahaya. Dengan demikian, cerita mengenai Ponggo tidak hanya berfungsi sebagai kisah mistis, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai kehati-hatian, kepatuhan, dan penghormatan terhadap alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kajian budaya, [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] termasuk bagian dari kekayaan folklor Gorontalo yang mencerminkan cara masyarakat tradisional memahami lingkungan sekitarnya. Kepercayaan terhadap makhluk gaib seperti Ponggo berkembang seiring dengan sistem kepercayaan lokal yang telah ada sebelum masuknya agama-agama besar di Gorontalo, meskipun saat ini masyarakat Gorontalo secara umum berpegang teguh pada ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] lebih tepat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya takbenda berupa tradisi lisan daripada sebagai fakta empiris. Pendokumentasian cerita-cerita seperti Ponggo penting dilakukan sebagai upaya pelestarian identitas budaya Gorontalo, sehingga pengetahuan lokal tersebut tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang dalam perspektif sejarah, sastra lisan, dan antropologi budaya.&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Ponggo.png&amp;diff=84</id>
		<title>File:Ponggo.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Ponggo.png&amp;diff=84"/>
		<updated>2026-07-20T02:23:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;gambar ilustrasi&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Ponggo&amp;diff=83</id>
		<title>Ponggo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Ponggo&amp;diff=83"/>
		<updated>2026-07-20T02:18:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo]&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; merupakan salah satu sosok dalam cerita rakyat dan tradisi lisan masyarakat Gorontalo yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam kepercayaan masyarakat Polahi, Ponggo digambarkan sebagai makhluk gaib yang sering dikaitkan dengan tempat-tempat sunyi, seperti hutan, kebun, atau kawasan yang jarang dilalui manusia. Keberadaan Ponggo lebih dikenal melalui cerita, nasihat orang tua, dan berbagai kisah rakyat daripa...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo]&#039;&#039;&#039; merupakan salah satu sosok dalam cerita rakyat dan tradisi lisan masyarakat Gorontalo yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam kepercayaan masyarakat Polahi, Ponggo digambarkan sebagai makhluk gaib yang sering dikaitkan dengan tempat-tempat sunyi, seperti hutan, kebun, atau kawasan yang jarang dilalui manusia. Keberadaan Ponggo lebih dikenal melalui cerita, nasihat orang tua, dan berbagai kisah rakyat daripada sebagai bagian dari ajaran keagamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat polahi, Ponggo sering digambarkan memiliki ciri khas berupa suara yang terdengar seperti bunyi &#039;&#039;&#039;&amp;quot;pok-pok-pok&amp;quot;&#039;&#039;&#039;, yang diyakini menjadi penanda kehadirannya. Dalam beberapa versi cerita rakyat, [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] digambarkan sebagai makhluk yang hanya berupa kepala tanpa tubuh dan dapat bergerak atau melayang pada malam hari. Namun, bentuk dan karakteristiknya dapat berbeda-beda di setiap daerah di Gorontalo karena penyampaiannya dilakukan secara lisan dari generasi ke generasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menurut keterangan masyarakat polahi, jika terdengan suara &#039;&#039;&#039;&amp;quot;pok-pok-pok&amp;quot;&#039;&#039;&#039; kencang atau sangat jelas, bertanda ponggo itu berada jauh, dan jika suaranya terdengar pelan atau samar-samar, bertanda [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] berada dekat di sekitar kita. Sebagian masyarakat Gorontalo juga masih percaya akan hal ini. Di beberapa daearah para orang tua melarang putri mereka agar tidak tidur pada saat matahari terbenam. “&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Dila potuluhu lolango no’u, momiyahe ponggo yio&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;” artinya: Jangan Tidur sore-sore nak, nanti kamu bisa melihara [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 ponggo]”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara antropologis, kisah tentang Ponggo memiliki fungsi sosial sebagai media pendidikan dan pengendalian perilaku. Cerita ini kerap digunakan oleh orang tua untuk mengingatkan anak-anak agar tidak bermain hingga larut malam, tidak memasuki hutan atau kebun seorang diri, serta selalu berhati-hati ketika berada di tempat yang dianggap berbahaya. Dengan demikian, cerita mengenai Ponggo tidak hanya berfungsi sebagai kisah mistis, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai kehati-hatian, kepatuhan, dan penghormatan terhadap alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kajian budaya, [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] termasuk bagian dari kekayaan folklor Gorontalo yang mencerminkan cara masyarakat tradisional memahami lingkungan sekitarnya. Kepercayaan terhadap makhluk gaib seperti Ponggo berkembang seiring dengan sistem kepercayaan lokal yang telah ada sebelum masuknya agama-agama besar di Gorontalo, meskipun saat ini masyarakat Gorontalo secara umum berpegang teguh pada ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo] lebih tepat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya takbenda berupa tradisi lisan daripada sebagai fakta empiris. Pendokumentasian cerita-cerita seperti Ponggo penting dilakukan sebagai upaya pelestarian identitas budaya Gorontalo, sehingga pengetahuan lokal tersebut tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang dalam perspektif sejarah, sastra lisan, dan antropologi budaya.&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Lati&amp;diff=82</id>
		<title>Lati</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Lati&amp;diff=82"/>
		<updated>2026-07-20T01:55:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 Lati]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, Dalam bahasa Gorontalo, kata &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 lati]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; umumnya berarti setan, hantu, atau makhluk halus. Kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk merujuk pada hal-hal supranatural, misalnya &#039;&#039;walauu mohe lo lati&#039;&#039; yang berarti &amp;quot;anakku takut setan&amp;quot;. Masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; juga memiliki sistem kepercayaan terhadap sejumlah jenis makhluk halus yang mereka yakini menghuni alam sekitar.&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt; Beberapa di antaranya, yaitu : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.      &#039;&#039;&#039;Lati to hulo’o&#039;&#039;&#039;: makhluk halus yang dipercaya menghuni pohon beringin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.      &#039;&#039;&#039;Lati pulu huta / Pongggo lo huta&#039;&#039;&#039;: makhluk halus penjaga wilayah tanah baru yang hendak dibuka sebagai lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.      &#039;&#039;&#039;Lati to dutula / Punthiyala lo taluhu&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.      &#039;&#039;&#039;Lati bonthula huta / Punthiyala lo tudu liyo&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga tanah datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.      &#039;&#039;&#039;Lati lo botu&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga batu-batu besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.      &#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo]&#039;&#039;&#039;: sosok makhluk halus perempuan yang dipercaya sebagai pemakan jantung atau janin manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepercayaan terhadap makhluk &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6760 Ponggo]&#039;&#039; sangat melekat dalam budaya &#039;&#039;Polahi&#039;&#039;. Sosok ini diyakini sering mengincar perempuan hamil dan berusaha memakan janinnya. &amp;lt;sup&amp;gt;2&amp;lt;/sup&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
(Kamaruddin Mustamin dkk, 2021)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Mansoer Pateda, 1977)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Lati&amp;diff=81</id>
		<title>Lati</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Lati&amp;diff=81"/>
		<updated>2026-07-20T01:51:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 Lati]&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, Dalam bahasa Gorontalo, kata &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 lati]&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; umumnya berarti setan, hantu, atau makhluk halus. Kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk merujuk pada hal-hal supranatural, misalnya &amp;#039;&amp;#039;walauu mohe lo lati&amp;#039;&amp;#039; yang berarti &amp;quot;anakku takut setan&amp;quot;. Masyarakat &amp;#039;&amp;#039;Polahi&amp;#039;&amp;#039; juga memiliki sistem kepercayaan terhadap sejumlah jenis makhluk halus yang mereka...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 Lati]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, Dalam bahasa Gorontalo, kata &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=4269 lati]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; umumnya berarti setan, hantu, atau makhluk halus. Kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk merujuk pada hal-hal supranatural, misalnya &#039;&#039;walauu mohe lo lati&#039;&#039; yang berarti &amp;quot;anakku takut setan&amp;quot;. Masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; juga memiliki sistem kepercayaan terhadap sejumlah jenis makhluk halus yang mereka yakini menghuni alam sekitar.&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt; Beberapa di antaranya, yaitu : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.      &#039;&#039;&#039;Lati to hulo’o&#039;&#039;&#039;: makhluk halus yang dipercaya menghuni pohon beringin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.      &#039;&#039;&#039;Lati pulu huta / Pongggo lo huta&#039;&#039;&#039;: makhluk halus penjaga wilayah tanah baru yang hendak dibuka sebagai lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.      &#039;&#039;&#039;Lati to dutula / Punthiyala lo taluhu&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.      &#039;&#039;&#039;Lati bonthula huta / Punthiyala lo tudu liyo&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga tanah datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.      &#039;&#039;&#039;Lati lo botu&#039;&#039;&#039;: makhluk penjaga batu-batu besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.      &#039;&#039;&#039;Ponggo&#039;&#039;&#039;: sosok makhluk halus perempuan yang dipercaya sebagai pemakan jantung atau janin manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepercayaan terhadap makhluk &#039;&#039;Ponggo&#039;&#039; sangat melekat dalam budaya &#039;&#039;Polahi&#039;&#039;. Sosok ini diyakini sering mengincar perempuan hamil dan berusaha memakan janinnya. &amp;lt;sup&amp;gt;2&amp;lt;/sup&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
(Kamaruddin Mustamin dkk, 2021)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Mansoer Pateda, 1977)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Sabuwa&amp;diff=80</id>
		<title>Sabuwa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Sabuwa&amp;diff=80"/>
		<updated>2026-07-20T01:28:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Sabuwa.jpg|alt=dokumentasi soga|thumb|300x300px|Sabuwa]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 Sabuwa]&#039;&#039;,&#039;&#039;&#039; dalam kamus bahasa gotontalo adalah pondok, gubuk, tempat sederhana berbentuk rumah atau tempat yang sengaja dibangun di tengah kebun atau sawah untuk menjaga padi. Juga berfungsi sebagai tempat beristirahat sementara para petani. &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 Sabuwa],&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;oleh masyarakat &#039;&#039;Polahi,&#039;&#039; diartikan sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Dalam praktiknya, masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; membangun lumbung penyimpanan khusus yang disebut &#039;&#039;sabuwa&#039;&#039; untuk menampung hasil panen berupa padi. Padi ini disimpan dalam jangka waktu yang lama dan hanya ditumbuk dalam jumlah seperlunya, sesuai dengan kebutuhan konsumsi harian. Pola ini menunjukkan adanya pengetahuan lokal masyarakat Polahi yang adaptif dan berbasis kearifan ekologis dalam menjaga ketahanan pangan di lingkungan hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Bapu_Yunus_Nani Bapu Yunus Nani] menjelaskan bahwa ketika masih hidup di hutan, pekerjaan utama masyarakat Polahi adalah bertani dan berburu. Masyarakat [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Polahi Polahi], mereka tidak pernah mengalami kekurangan makanan&amp;lt;sup&amp;gt;[[Samsi Pomalinago , Sukirman Rahim , (2020), &amp;quot; Potret Etnografi Masyarakat Polahi &amp;quot; , (Gorontalo: Ideas Publishing)|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt; karena hasil buruan dan hasil panen dikomsumsi sekedarnya saja sesuai kebutuhan dan sisanya disimpan di [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 sabuwa].&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|2]]&amp;lt;/sup&amp;gt;  kebiasaan menyimpan hasil panen dan hasil berburu dilakukan turun temurun oleh masyarakat polahi. Hutan tempat berburu dan berkebun masyarakat Polahi semakin rusak dan makin berkurang dengan adanya tambang.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Samsi Pomalinago , Sukirman Rahim , (2020), &amp;quot; &#039;&#039;Potret Etnografi Masyarakat Polahi&#039;&#039; &amp;quot; , (Gorontalo: Ideas Publishing)&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Sabuwa&amp;diff=79</id>
		<title>Sabuwa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Sabuwa&amp;diff=79"/>
		<updated>2026-07-20T01:27:43Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Sabuwa.jpg|alt=dokumentasi soga|thumb|300x300px|Sabuwa]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 Sabuwa]&#039;&#039;,&#039;&#039;&#039; dalam kamus bahasa gotontalo adalah pondok, gubuk, tempat sederhana berbentuk rumah atau tempat yang sengaja dibangun di tengah kebun atau sawah untuk menjaga padi. Juga berfungsi sebagai tempat beristirahat sementara para petani. &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 Sabuwa],&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;oleh masyarakat &#039;&#039;Polahi,&#039;&#039; diartikan sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Dalam praktiknya, masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; membangun lumbung penyimpanan khusus yang disebut &#039;&#039;sabuwa&#039;&#039; untuk menampung hasil panen berupa padi. Padi ini disimpan dalam jangka waktu yang lama dan hanya ditumbuk dalam jumlah seperlunya, sesuai dengan kebutuhan konsumsi harian. Pola ini menunjukkan adanya pengetahuan lokal masyarakat Polahi yang adaptif dan berbasis kearifan ekologis dalam menjaga ketahanan pangan di lingkungan hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Bapu_Yunus_Nani Bapu Yunus Nani] menjelaskan bahwa ketika masih hidup di hutan, pekerjaan utama masyarakat Polahi adalah bertani dan berburu. Masyarakat [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Polahi Polahi], mereka tidak pernah mengalami kekurangan makanan&amp;lt;sup&amp;gt;[[Samsi Pomalinago , Sukirman Rahim , (2020), &amp;quot; Potret Etnografi Masyarakat Polahi &amp;quot; , (Gorontalo: Ideas Publishing)|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt; karena hasil buruan dan hasil panen dikomsumsi sekedarnya saja sesuai kebutuhan dan sisanya disimpan di [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 sabuwa].&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|2]]&amp;lt;/sup&amp;gt;  kebiasaan menyimpan hasil panen dan hasil berburu dilakukan turun temurun oleh masyarakat polahi. Hutan tempat berburu dan berkebun masyarakat Polahi semakin rusak dan makin berkurang dengan adanya tambang.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Samsi Pomalinago , Sukirman Rahim , (2020), &amp;quot; &#039;&#039;Potret Etnografi Masyarakat Polahi&#039;&#039; &amp;quot; , (Gorontalo: Ideas Publishing)&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Sabuwa&amp;diff=78</id>
		<title>Sabuwa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Sabuwa&amp;diff=78"/>
		<updated>2026-07-20T01:24:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;Sabuwa &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sabuwa&amp;#039;&amp;#039;,&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; dalam kamus bahasa gotontalo adalah pondok, gubuk, tempat sederhana berbentuk rumah atau tempat yang sengaja dibangun di tengah kebun atau sawah untuk menjaga padi. Juga berfungsi sebagai tempat beristirahat sementara para petani. &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Sabuwa,&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;oleh masyarakat &amp;#039;&amp;#039;Polahi,&amp;#039;&amp;#039; diartikan sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Dalam praktiknya, masyarakat &amp;#039;&amp;#039;Polahi&amp;#039;&amp;#039; membangun lumbung...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Sabuwa.jpg|alt=dokumentasi soga|thumb|300x300px|Sabuwa]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Sabuwa&#039;&#039;,&#039;&#039;&#039; dalam kamus bahasa gotontalo adalah pondok, gubuk, tempat sederhana berbentuk rumah atau tempat yang sengaja dibangun di tengah kebun atau sawah untuk menjaga padi. Juga berfungsi sebagai tempat beristirahat sementara para petani. &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Sabuwa,&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039; &#039;&#039;&#039;oleh masyarakat &#039;&#039;Polahi,&#039;&#039; diartikan sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Dalam praktiknya, masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; membangun lumbung penyimpanan khusus yang disebut &#039;&#039;sabuwa&#039;&#039; untuk menampung hasil panen berupa padi. Padi ini disimpan dalam jangka waktu yang lama dan hanya ditumbuk dalam jumlah seperlunya, sesuai dengan kebutuhan konsumsi harian. Pola ini menunjukkan adanya pengetahuan lokal masyarakat Polahi yang adaptif dan berbasis kearifan ekologis dalam menjaga ketahanan pangan di lingkungan hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapu Yunus Nani menjelaskan bahwa ketika masih hidup di hutan, pekerjaan utama masyarakat Polahi adalah bertani dan berburu. Masyarakat Polahi, mereka tidak pernah mengalami kekurangan makanan&amp;lt;sup&amp;gt;[[Samsi Pomalinago , Sukirman Rahim , (2020), &amp;quot; Potret Etnografi Masyarakat Polahi &amp;quot; , (Gorontalo: Ideas Publishing)|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt; karena hasil buruan dan hasil panen dikomsumsi sekedarnya saja sesuai kebutuhan dan sisanya disimpan di sabuwa.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|2]]&amp;lt;/sup&amp;gt;  kebiasaan menyimpan hasil panen dan hasil berburu dilakukan turun temurun oleh masyarakat polahi. Hutan tempat berburu dan berkebun masyarakat Polahi semakin rusak dan makin berkurang dengan adanya tambang.    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Samsi Pomalinago , Sukirman Rahim , (2020), &amp;quot; &#039;&#039;Potret Etnografi Masyarakat Polahi&#039;&#039; &amp;quot; , (Gorontalo: Ideas Publishing)&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Sabuwa.jpg&amp;diff=77</id>
		<title>File:Sabuwa.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Sabuwa.jpg&amp;diff=77"/>
		<updated>2026-07-20T01:20:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumentasi soga&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=76</id>
		<title>Molapo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=76"/>
		<updated>2026-07-20T00:52:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039;&#039; merupakan ritual pengasapan lahan pertanian yang dilakukan oleh &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; sebagai bagian dari praktik pertanian tradisional masyarakat Polahi. Ritual ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari serangan hama, terutama ulat, serta menjaga keberlangsungan pertumbuhan tanaman. Dalam satu siklus tanam, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; umumnya melaksanakan ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; sebanyak tiga hingga lima kali. Pelaksanaannya tidak terikat pada waktu tertentu, melainkan disesuaikan dengan kondisi tanaman atau berdasarkan permintaan pemilik lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; dilaksanakan melalui dua metode, yaitu dengan melakukan prosesi di bagian tengah lahan pertanian dalam posisi setengah jongkok atau dengan mengelilingi lahan dari satu sudut ke sudut lainnya. Bahan-bahan yang digunakan meliputi serabut kelapa, kemenyan, serai, dan rumah madu. Seluruh bahan tersebut dibakar di atas batok kelapa hingga menghasilkan asap. Selama proses pengasapan berlangsung, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; mengucapkan doa sebagai bentuk permohonan kepada leluhur dan makhluk penjaga agar tanaman terhindar dari gangguan hama. Setelah prosesi doa selesai, wadah berisi bahan pengasapan dibawa mengelilingi lahan, kemudian diletakkan di bagian tengah kebun sebagai penutup ritual&amp;lt;sup&amp;gt;[[Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). Siasah. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak|2]]&amp;lt;/sup&amp;gt;.&lt;br /&gt;
[[File:Pengasapan ilustarasi (1).png|alt=/* Membatasi ukuran maksimal gambar yang tidak menggunakan format thumbnail agar menjadi kecil */ .mw-parser-output a.image img {     max-width: 300px !important;     height: auto !important; } .mw-parser-output img {     max-width: 100%;     height: auto; }|thumb|300x300px|ilustrasi]]&lt;br /&gt;
Seiring dengan berkurangnya jumlah &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039;, praktik &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; juga semakin jarang dilakukan. Kepercayaan terhadap efektivitas ritual ini umumnya masih dipertahankan oleh generasi yang lebih tua, sedangkan sebagian besar masyarakat mulai bersikap skeptis akibat perubahan budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa pandangan, ritual tersebut bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Namun demikian, jika ditinjau dari perspektif pertanian berkelanjutan, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; dapat dipahami sebagai praktik pengendalian hama yang memanfaatkan bahan-bahan alami sehingga berpotensi mendukung keseimbangan ekosistem dan menjaga siklus kehidupan organisme. Dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis yang berisiko menurunkan keanekaragaman hayati serta menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, teknik pengasapan tradisional ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekologis yang perlu dikaji lebih lanjut&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bacaan pada ritual Molapo :  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;E baya Moyito, baya lalahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Baya mela, baya mopiti&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Diya’a u’otawa’u&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wa’u bungolo pito’o&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Pilomulo’u po’i’asati’u olimongoli&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Huyi waw dulahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mahaluku li mongoli pintha poma’o teye&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wonu dila pintha limongoli&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mo pulito lo puwa’u (pate-pate’u)&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;Menurut masyarakat Polahi, mereka tidak pernah mengalami kekurangan makanan selama hidup di hutan. Bahkan, mereka memiliki tempat khusus bernama &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=7208 sabuwa]&#039;&#039; untuk menyimpan padi. Padi tersebut kemudian ditumbuk sesuai kebutuhan untuk dikonsumsi pada hari itu. Masyarakat Polahi dengan tradisi dan teknik berkebun yang diwariskan secara turun-temurun, Selain tradisi [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo], mereka juga meyakini bahwa keberhasilan panen bergantung pada kepatuhan terhadap empat pantangan berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak makan malam jika lampu mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak boleh melewati orang yang sedang makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Padi tidak boleh diletakkan di atas beras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak diperbolehkan makan sebelum menanam.&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;Apabila tanaman yang telah tumbuh terserang penyakit atau hama, maka ritual yang dilakukan oleh masyarakat Polahi adalah &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]&#039;&#039; atau (&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo olo, tapo:lo])&#039;&#039; istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo] &#039;&#039;&amp;quot;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo]&amp;quot;.&#039;&#039; merujuk pada ahli pengobatan/penyembuhan tradisiona yang melakukan ritual membawa tempurung berisi bara api yang ditaburi kemenyan, lalu dibacakan doa atau mantra tertentu. salah satu do&#039;a yang dibacakan adalah :  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;Assalam alaikum Nabi Sulaiman, molopu nganga’ami&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Nabi-nabi kulo, molopu mominthohulo&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wanu dila mohalahu, mali tilo mali wahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wanu dila lumahilo, mali wahu mali tilo&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]&#039;&#039; terdapat dua catatan penting. Pertama, kemenyan yang digunakan tidak boleh berasal dari pohon damar. Kedua, setelah ritual dilaksanakan, masyarakat dilarang pergi ke kebun selama tiga hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=75</id>
		<title>Molapo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=75"/>
		<updated>2026-07-20T00:28:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039;&#039; merupakan ritual pengasapan lahan pertanian yang dilakukan oleh &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; sebagai bagian dari praktik pertanian tradisional masyarakat Polahi. Ritual ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari serangan hama, terutama ulat, serta menjaga keberlangsungan pertumbuhan tanaman. Dalam satu siklus tanam, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; umumnya melaksanakan ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; sebanyak tiga hingga lima kali. Pelaksanaannya tidak terikat pada waktu tertentu, melainkan disesuaikan dengan kondisi tanaman atau berdasarkan permintaan pemilik lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; dilaksanakan melalui dua metode, yaitu dengan melakukan prosesi di bagian tengah lahan pertanian dalam posisi setengah jongkok atau dengan mengelilingi lahan dari satu sudut ke sudut lainnya. Bahan-bahan yang digunakan meliputi serabut kelapa, kemenyan, serai, dan rumah madu. Seluruh bahan tersebut dibakar di atas batok kelapa hingga menghasilkan asap. Selama proses pengasapan berlangsung, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; mengucapkan doa sebagai bentuk permohonan kepada leluhur dan makhluk penjaga agar tanaman terhindar dari gangguan hama. Setelah prosesi doa selesai, wadah berisi bahan pengasapan dibawa mengelilingi lahan, kemudian diletakkan di bagian tengah kebun sebagai penutup ritual&amp;lt;sup&amp;gt;[[Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). Siasah. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak|2]]&amp;lt;/sup&amp;gt;.&lt;br /&gt;
[[File:Pengasapan ilustarasi (1).png|alt=/* Membatasi ukuran maksimal gambar yang tidak menggunakan format thumbnail agar menjadi kecil */ .mw-parser-output a.image img {     max-width: 300px !important;     height: auto !important; } .mw-parser-output img {     max-width: 100%;     height: auto; }|thumb|300x300px|ilustrasi]]&lt;br /&gt;
Seiring dengan berkurangnya jumlah &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039;, praktik &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; juga semakin jarang dilakukan. Kepercayaan terhadap efektivitas ritual ini umumnya masih dipertahankan oleh generasi yang lebih tua, sedangkan sebagian besar masyarakat mulai bersikap skeptis akibat perubahan budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa pandangan, ritual tersebut bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Namun demikian, jika ditinjau dari perspektif pertanian berkelanjutan, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; dapat dipahami sebagai praktik pengendalian hama yang memanfaatkan bahan-bahan alami sehingga berpotensi mendukung keseimbangan ekosistem dan menjaga siklus kehidupan organisme. Dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis yang berisiko menurunkan keanekaragaman hayati serta menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, teknik pengasapan tradisional ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekologis yang perlu dikaji lebih lanjut&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bacaan pada ritual Molapo :  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;E baya Moyito, baya lalahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Baya mela, baya mopiti&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Diya’a u’otawa’u&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wa’u bungolo pito’o&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Pilomulo’u po’i’asati’u olimongoli&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Huyi waw dulahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mahaluku li mongoli pintha poma’o teye&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wonu dila pintha limongoli&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mo pulito lo puwa’u (pate-pate’u)&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;Menurut masyarakat Polahi, mereka tidak pernah mengalami kekurangan makanan selama hidup di hutan. Bahkan, mereka memiliki wadah khusus bernama &#039;&#039;sabuah&#039;&#039; untuk menyimpan padi. Padi tersebut kemudian ditumbuk sesuai kebutuhan untuk dikonsumsi pada hari itu. Masyarakat Polahi dengan tradisi dan teknik berkebun yang diwariskan secara turun-temurun, Selain tradisi [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo], mereka juga meyakini bahwa keberhasilan panen bergantung pada kepatuhan terhadap empat pantangan berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak makan malam jika lampu mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak boleh melewati orang yang sedang makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Padi tidak boleh diletakkan di atas beras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak diperbolehkan makan sebelum menanam.&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;Apabila tanaman yang telah tumbuh terserang penyakit atau hama, maka ritual yang dilakukan oleh masyarakat Polahi adalah &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]&#039;&#039; atau (&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo olo, tapo:lo])&#039;&#039; istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo] &#039;&#039;&amp;quot;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo]&amp;quot;.&#039;&#039; merujuk pada ahli pengobatan/penyembuhan tradisiona yang melakukan ritual membawa tempurung berisi bara api yang ditaburi kemenyan, lalu dibacakan doa atau mantra tertentu. salah satu do&#039;a yang dibacakan adalah :  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;Assalam alaikum Nabi Sulaiman, molopu nganga’ami&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Nabi-nabi kulo, molopu mominthohulo&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wanu dila mohalahu, mali tilo mali wahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wanu dila lumahilo, mali wahu mali tilo&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]&#039;&#039; terdapat dua catatan penting. Pertama, kemenyan yang digunakan tidak boleh berasal dari pohon damar. Kedua, setelah ritual dilaksanakan, masyarakat dilarang pergi ke kebun selama tiga hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=74</id>
		<title>Molapo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=74"/>
		<updated>2026-07-13T03:37:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039;&#039; merupakan ritual pengasapan lahan pertanian yang dilakukan oleh &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; sebagai bagian dari praktik pertanian tradisional masyarakat. Ritual ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari serangan hama, terutama ulat, serta menjaga keberlangsungan pertumbuhan tanaman. Dalam satu siklus tanam, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; umumnya melaksanakan ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; sebanyak tiga hingga lima kali. Pelaksanaannya tidak terikat pada waktu tertentu, melainkan disesuaikan dengan kondisi tanaman atau berdasarkan permintaan pemilik lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; dilaksanakan melalui dua metode, yaitu dengan melakukan prosesi di bagian tengah lahan pertanian dalam posisi setengah jongkok atau dengan mengelilingi lahan dari satu sudut ke sudut lainnya. Bahan-bahan yang digunakan meliputi serabut kelapa, kemenyan, serai, dan rumah madu. Seluruh bahan tersebut dibakar di atas batok kelapa hingga menghasilkan asap. Selama proses pengasapan berlangsung, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039; mengucapkan doa sebagai bentuk permohonan kepada leluhur dan makhluk penjaga agar tanaman terhindar dari gangguan hama. Setelah prosesi doa selesai, wadah berisi bahan pengasapan dibawa mengelilingi lahan, kemudian diletakkan di bagian tengah kebun sebagai penutup ritual&amp;lt;sup&amp;gt;[[Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). Siasah. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak|2]]&amp;lt;/sup&amp;gt;.&lt;br /&gt;
[[File:Pengasapan ilustarasi (1).png|alt=/* Membatasi ukuran maksimal gambar yang tidak menggunakan format thumbnail agar menjadi kecil */ .mw-parser-output a.image img {     max-width: 300px !important;     height: auto !important; } .mw-parser-output img {     max-width: 100%;     height: auto; }|thumb|300x300px|ilustrasi]]&lt;br /&gt;
Seiring dengan berkurangnya jumlah &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6182 Panggoba]&#039;&#039;, praktik &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; juga semakin jarang dilakukan. Kepercayaan terhadap efektivitas ritual ini umumnya masih dipertahankan oleh generasi yang lebih tua, sedangkan sebagian besar masyarakat mulai bersikap skeptis akibat perubahan budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa pandangan, ritual tersebut bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Namun demikian, jika ditinjau dari perspektif pertanian berkelanjutan, &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo]&#039;&#039; dapat dipahami sebagai praktik pengendalian hama yang memanfaatkan bahan-bahan alami sehingga berpotensi mendukung keseimbangan ekosistem dan menjaga siklus kehidupan organisme. Dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis yang berisiko menurunkan keanekaragaman hayati serta menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, teknik pengasapan tradisional ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekologis yang perlu dikaji lebih lanjut&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bacaan pada ritual Molapo :  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;E baya Moyito, baya lalahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Baya mela, baya mopiti&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Diya’a u’otawa’u&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wa’u bungolo pito’o&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Pilomulo’u po’i’asati’u olimongoli&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Huyi waw dulahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mahaluku li mongoli pintha poma’o teye&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wonu dila pintha limongoli&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mo pulito lo puwa’u (pate-pate’u)&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;Menurut masyarakat Polahi, mereka tidak pernah mengalami kekurangan makanan selama hidup di hutan. Bahkan, mereka memiliki wadah khusus bernama &#039;&#039;sabuah&#039;&#039; untuk menyimpan padi. Padi tersebut kemudian ditumbuk sesuai kebutuhan untuk dikonsumsi pada hari itu. Masyarakat Polahi dengan tradisi dan teknik berkebun yang diwariskan secara turun-temurun, Selain tradisi [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo], mereka juga meyakini bahwa keberhasilan panen bergantung pada kepatuhan terhadap empat pantangan berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak makan malam jika lampu mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak boleh melewati orang yang sedang makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Padi tidak boleh diletakkan di atas beras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
·        Tidak diperbolehkan makan sebelum menanam.&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;Apabila tanaman yang telah tumbuh terserang penyakit atau hama, maka ritual yang dilakukan oleh masyarakat Polahi adalah &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]&#039;&#039; atau (&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo olo, tapo:lo])&#039;&#039; istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan [https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Molapo] &#039;&#039;&amp;quot;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapo]&amp;quot;.&#039;&#039; merujuk pada ahli pengobatan/penyembuhan tradisiona yang melakukan ritual membawa tempurung berisi bara api yang ditaburi kemenyan, lalu dibacakan doa atau mantra tertentu. salah satu do&#039;a yang dibacakan adalah :  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;Assalam alaikum Nabi Sulaiman, molopu nganga’ami&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Nabi-nabi kulo, molopu mominthohulo&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wanu dila mohalahu, mali tilo mali wahu&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Wanu dila lumahilo, mali wahu mali tilo&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ritual &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=8001 Tapolo]&#039;&#039; terdapat dua catatan penting. Pertama, kemenyan yang digunakan tidak boleh berasal dari pohon damar. Kedua, setelah ritual dilaksanakan, masyarakat dilarang pergi ke kebun selama tiga hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Suwarno, Harijanto dan Aditya Widya Putri. (2021). [https://drive.google.com/file/d/1CzVPGqhrzO0YlNaiMClTcJdrhcxDG0F-/view?usp=sharing Siasah]. Jakarta: Terasmitra bekerjasama dengan GEF-SGP Indonesia dan Kaoem Telapak&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Pengasapan_ilustarasi_(1).png&amp;diff=73</id>
		<title>File:Pengasapan ilustarasi (1).png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Pengasapan_ilustarasi_(1).png&amp;diff=73"/>
		<updated>2026-07-13T02:58:19Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;ilustrasi1&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Ilustrasi_ritual_molapo._jpeg.jpg&amp;diff=72</id>
		<title>File:Ilustrasi ritual molapo. jpeg.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Ilustrasi_ritual_molapo._jpeg.jpg&amp;diff=72"/>
		<updated>2026-07-13T02:50:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;ilustrasi&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=71</id>
		<title>Molapo</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Molapo&amp;diff=71"/>
		<updated>2026-07-13T01:33:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Molapo&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; merupakan ritual pengasapan lahan pertanian yang dilakukan oleh &amp;#039;&amp;#039;Panggoba&amp;#039;&amp;#039; sebagai bagian dari praktik pertanian tradisional masyarakat. Ritual ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari serangan hama, terutama ulat, serta menjaga keberlangsungan pertumbuhan tanaman. Dalam satu siklus tanam, &amp;#039;&amp;#039;Panggoba&amp;#039;&amp;#039; umumnya melaksanakan ritual &amp;#039;&amp;#039;Molapo&amp;#039;&amp;#039; sebanyak tiga hingga lima kali. Pelaksanaannya tidak terikat pada waktu tertentu, melainkan disesuaikan dengan kon...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Molapo&#039;&#039;&#039; merupakan ritual pengasapan lahan pertanian yang dilakukan oleh &#039;&#039;Panggoba&#039;&#039; sebagai bagian dari praktik pertanian tradisional masyarakat. Ritual ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari serangan hama, terutama ulat, serta menjaga keberlangsungan pertumbuhan tanaman. Dalam satu siklus tanam, &#039;&#039;Panggoba&#039;&#039; umumnya melaksanakan ritual &#039;&#039;Molapo&#039;&#039; sebanyak tiga hingga lima kali. Pelaksanaannya tidak terikat pada waktu tertentu, melainkan disesuaikan dengan kondisi tanaman atau berdasarkan permintaan pemilik lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ritual &#039;&#039;Molapo&#039;&#039; dilaksanakan melalui dua metode, yaitu dengan melakukan prosesi di bagian tengah lahan pertanian dalam posisi setengah jongkok atau dengan mengelilingi lahan dari satu sudut ke sudut lainnya. Bahan-bahan yang digunakan meliputi serabut kelapa, kemenyan, serai, dan rumah madu. Seluruh bahan tersebut dibakar di atas batok kelapa hingga menghasilkan asap. Selama proses pengasapan berlangsung, &#039;&#039;Panggoba&#039;&#039; mengucapkan doa sebagai bentuk permohonan kepada leluhur dan makhluk penjaga agar tanaman terhindar dari gangguan hama. Setelah prosesi doa selesai, wadah berisi bahan pengasapan dibawa mengelilingi lahan, kemudian diletakkan di bagian tengah kebun sebagai penutup ritual.&lt;br /&gt;
[[File:Ilustrasi ritual molapo.png|alt=ilustrasi|thumb|300x300px|ilustrasi]]&lt;br /&gt;
Seiring dengan berkurangnya jumlah &#039;&#039;Panggoba&#039;&#039;, praktik &#039;&#039;Molapo&#039;&#039; juga semakin jarang dilakukan. Kepercayaan terhadap efektivitas ritual ini umumnya masih dipertahankan oleh generasi yang lebih tua, sedangkan sebagian besar masyarakat mulai bersikap skeptis akibat perubahan budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa pandangan, ritual tersebut bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Namun demikian, jika ditinjau dari perspektif pertanian berkelanjutan, &#039;&#039;Molapo&#039;&#039; dapat dipahami sebagai praktik pengendalian hama yang memanfaatkan bahan-bahan alami sehingga berpotensi mendukung keseimbangan ekosistem dan menjaga siklus kehidupan organisme. Dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis yang berisiko menurunkan keanekaragaman hayati serta menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, teknik pengasapan tradisional ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekologis yang perlu dikaji lebih lanjut.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Ilustrasi_ritual_molapo.png&amp;diff=70</id>
		<title>File:Ilustrasi ritual molapo.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Ilustrasi_ritual_molapo.png&amp;diff=70"/>
		<updated>2026-07-13T01:32:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;ilustrasi&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=69</id>
		<title>Polahi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=69"/>
		<updated>2026-07-06T07:48:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Rumah polahi 1.png|thumb|296x296px|Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/?kategori=semua&amp;amp;kata=polahi Polahi]&#039;&#039;&#039;, Masyarakat Polahi merupakan Masyarakat Gorontalo yang melakukan eksodus (meninggalkan tempat asal) untuk menghindari tekanan pemerintahan Kolonial Belanda&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 1]&amp;lt;/sup&amp;gt; Penolakan terhadap pajak&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt;, kekhawatiran akan penindasan, serta keengganan mematuhi regulasi kolonial mendorong mereka melarikan diri ke kawasan hutan pedalaman. Secara leksikal, istilah Polahi bermakna “[https://kamusgorontalo.com/detail.php?id=6664 orang yang melarikan diri]” atau “pelarian dari suatu tempat”. Keberadaan komunitas ini kemudian memunculkan berbagai mitos di tengah masyarakat Gorontalo, seperti kepercayaan bahwa mereka memiliki kemampuan menghilang, kekuatan magis dan ilmu kebal, serta disebut-sebut dapat membunuh orang luar yang tersesat di hutan. Dalam perspektif mitologi lokal, masyarakat Polahi terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni kelompok yang menetap di Pegunungan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, dan kelompok yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila serta kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi merupakan masyarakat adat yang hingga kini masih ada dan bertahan hidup di kawasan hutan dan Pegunungan.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (2025), &amp;quot;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Indigenous People Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|3]]&amp;lt;/sup&amp;gt; Secara historis, mereka dikenal sebagai kelompok yang memilih hidup mengasingkan diri sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial Belanda.&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 4]&amp;lt;/sup&amp;gt; Pilihan tersebut tidak semata-mata mencerminkan keterpisahan sosial, melainkan merepresentasikan sikap ideologis dan kultural yang membentuk sistem nilai, pola hidup, serta praktik kebahasaan yang khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Polahi menunjukkan corak budaya yang berbeda dari masyarakat kampung. Sistem nilai dan norma sosial mereka tercermin dalam pola komunikasi yang cenderung langsung, lugas, dan menekankan makna tekstual atau denotatif, dengan minim penggunaan makna konotatif. Karakteristik ini menempatkan masyarakat Polahi sebagai kelompok yang tidak hanya terpisah secara geografis, tetapi juga secara linguistik dan kultural.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Tilongkabila == &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa warga dan aparat setempat di Kecamatan Suwawa Timur dan Kecamatan Pinogu, diketahui bahwa keberadaan Polahi di [https://www.google.com/maps/place/Pegunungan+Tilongkabila/@0.54,123.2133333,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327ed6fd8cfe53c7:0x6212c59505891bd1!8m2!3d0.54!4d123.2133333!16s%2Fg%2F11cr_w845c!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Tilongkabila]&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; sering kali tidak dapat diamati secara kasat mata. Ka Une warga Desa Poduwama menyampaikan bahwa di kawasan tersebut terdapat kampung dan masjid yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Meskipun kerap dikaitkan dengan unsur mistik, masyarakat Polahi diyakini bukan makhluk gaib atau jin, melainkan manusia biasa yang memiliki nama, marga, dan penampilan fisik layaknya manusia pada umumnya. Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, mereka disebut mulai mengenakan pakaian secara lebih teratur sebagaimana masyarakat umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Pinogu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Polahi Pinogu ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila memiliki banyak nuansa mistis. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai tempat keberadaan Polahi adalah [https://www.google.com/maps/place/Pinogu,+Dataran+Hijau,+Kec.+Pinogu,+Kabupaten+Bone+Bolango,+Gorontalo/@0.4951414,123.4300993,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f1ff846332ed1:0x91237a3d149f7292!8m2!3d0.49512!4d123.440399!16s%2Fg%2F12q4_56_w!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pinogu], yang terletak di atas kawasan [https://www.google.com/maps/place/Taman+nasional+bogani+Nani+wartabone(PINOGU)/@0.4730679,123.3149876,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f27001b3093f1:0x17bf6b859cc5f4c4!8m2!3d0.4730625!4d123.3175625!16s%2Fg%2F11vxqpr932!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Taman Nasional Bogani Nani Wartabone] Kabupaten Bone Bolango. Untuk mencapai daerah ini, pengunjung biasanya menggunakan jasa ojek motor gunung dari Desa Tulabolo menuju Desa Pinogu, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dan biaya sewa berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000. Pinogu itu sendiri dikenal memiliki sejumlah cerita mistis, di antaranya adalah legenda Polahi di Sabua Delapan, keberadaan kubur keramat, buaya mistik yang sering dikaitkan dengan jembatan gantung Pinogu, serta praktik ilmu pedi yang diwariskan secara turun-temurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Boliyohuto ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polahi dipercaya oleh masyarakat sekitar akan muncul ketika mereka merasa terusik oleh aktivitas warga kampung. Polahi Boliyohuto, Mitos yang berkembang dalam masyarakat Polahi yang bermukim di [https://www.google.com/maps/place/Puncak+Ile+Ile+Pegunungan+Boliyohuto/@0.886135,122.5047701,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x32797105eeb1a1e3:0xccbea206ea34ab6b!8m2!3d0.8861296!4d122.507345!16s%2Fg%2F11nxck87ny!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Boliyohuto] cukup beragam. Beberapa di antaranya menyebut bahwa masyarakat Polahi memiliki kemampuan supranatural &amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; seperti dapat menghilang, memiliki ilmu kebal, kemampuan guna-guna terhadap orang yang tidak disukai, menyembuhkan penyakit secara nonmedis, hingga diyakini dapat mencelakai atau bahkan membunuh warga kampung. Namun demikian, berdasarkan hasil wawancara dengan warga dan aparat setempat, diketahui bahwa masyarakat Polahi di Boliyohuto sebenarnya telah berinteraksi dengan masyarakat kampung selama beberapa dekade terakhir. Interaksi tersebut bermula sejak adanya pertemuan tidak sengaja antara masyarakat pencari rotan dengan kelompok Polahi di wilayah pegunungan Boliyohuto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat Polahi seperti [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Raja_Polahi_Babuta Raja Polahi Babuta], Lahiya (atau Kambo), dan [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;amp;veaction=edit Bapu Yunus Nani], mereka menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki kemampuan seperti ilmu kebal atau kemampuan untuk menghilang. Namun beberapa anggota masyarakat Polahi masih menggunakan bentuk-bentuk pengetahuan tradisional tertentu yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Misalnya, Lahiya seorang anggota komunitas Polahi yang kini tinggal di Desa Lawonu, Kecamatan Telaga masih mempraktikkan penggunaan jimat-jimat khusus untuk membantu pencarian korban tenggelam akibat banjir di sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Asparaga ===&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Asparaga meliputi wilayah desa bihe dan desa pangahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Tolangohula ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Tolangohula meliputi wilayah Desa Bina Jaya, Air Terjun Tumba di Desa Tamaila, Desa Polohungo, serta wilayah sekitar Gunung Muhulo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/search/authors/view?firstName=Karina&amp;amp;middleName=Nataya&amp;amp;lastName=Walenta&amp;amp;affiliation=Pascasarjana%20Universitas%20Negeri%20Gorontalo&amp;amp;country=ID Karina Nataya Walenta], Nur Mohamad Kasim, Lusiana Margaret Tijow [https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 &amp;quot;&#039;&#039;Pemenuhan Hak Konstitusional Masyarakat Adat Suku Polahi di Bidang Ketenagakerjaan &amp;quot;&#039;&#039;] PILAR Jurnal Hukum Philosophia, UNG JIlid 2 Nomor 1 Mei 2022&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 Samsi Pomalinago], [https://ung.ac.id/formasi/people/197607292006041001 Sukirman Rahim], (2020) , [https://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/10014/sukirman-rahim-buku-potret-etnografi-masyarakat-polahi.html &amp;quot;&#039;&#039;Potret Etnografi Masyarakat Polahi&#039;&#039;&amp;quot;],  (Gorontalo: Ideas Publishing)&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (&#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot;&#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Indigenous People Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Yasin Kulimba, Wawan K Tolinggi, Amelia Murtisari&#039;&#039;,&#039;&#039; (2019) &#039;&#039;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 &amp;quot;Perilaku Komunitas Polahi Dalam Pemanfaatan Lahan Pertanian Di Desa Bina Jaya Kecamatan Tolangohula Kabupaten Gorontalo&amp;quot;]  AGRINESIA - Jurnal Ilmiah Agribisnis,&#039;&#039; UNG Vil 3, No 3&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=68</id>
		<title>Bapu Yunus Nani</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;diff=68"/>
		<updated>2026-07-02T05:38:30Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Bapu Yunus Nani 1.png|thumb|276x276px|Masyarakat Polahi, Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bapu Yunus Nani&#039;&#039;&#039;, adalah salah satu dari lima orang masyarakat Polahi yang telah hidup membaur dengan masyarakat di Desa Bihe Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah Desa Bihe memberikan fasilitas tempat tinggal berupa satu unit Mahayani (Rumah Layak Huni) kepada Bapu Yunus Nani. Rumah tersebut terletak di belakang masjid dan berdampingan dengan [https://www.google.com/maps/place/Kantor+Desa+Bihe/@0.7796272,122.4057216,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x3279758fdbee14a7:0xb177ed67346e7064!8m2!3d0.7796218!4d122.4082965!16s%2Fg%2F11h4npzr3r!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Kantor Desa Bihe]. Pada bulan September 2024, Kementerian Pariwisata menetapkan Desa Bihe sebagai salah satu dari 50 desa penerima Anugerah Desa Wisata (ADWI). Penghargaan ini disampaikan oleh [https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Dessy_Ruhati.jpg Dessy Ruhati], Deputi Bidang Kebijakan Strategis. &amp;lt;blockquote&amp;gt;Bapu Yunus Nani, (Menggunakan bahasa daerah) artinya : &#039;&#039;perhatian pemerintah terhadap masyarakat Polahi di desa ini tergolong besar. Mereka secara rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah desa maupun Dinas Sosial. Selain rumah Mahayani, pemerintah juga menyediakan alat tempa besi sebagai upaya pemberdayaan ekonomi bagi Bapu Yunus Nani. Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa permintaan jasa pembuatan atau perbaikan pisau dan parang tidak terjadi setiap hari. Dalam satu bulan, terkadang hanya satu hingga dua orang yang datang, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Peningkatan permintaan biasanya terjadi menjelang momen-momen besar seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, awal Ramadan, atau saat musim panen tiba di kebun maupun sawah&#039;&#039;.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( 2025), &amp;quot; Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Masyarakat Adat Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|1]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=I%27ito&amp;diff=67</id>
		<title>I&#039;ito</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=I%27ito&amp;diff=67"/>
		<updated>2026-06-25T06:41:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, atau &#039;&#039;&#039;pohon &#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan nama &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;ilito, membongo&#039;&#039;,&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;tanea&#039;&#039;,&#039;&#039;&#039; dan secara umum disebut sebagai &#039;&#039;&#039;pohon nibung&#039;&#039;&#039; dalam bahasa Indonesia.&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt; Pohon &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; termasuk dalam keluarga palma.&amp;lt;sup&amp;gt;2&amp;lt;/sup&amp;gt; Batangnya ditumbuhi duri besar berwarna kehitaman, dan memiliki struktur yang kuat serta kokoh. Hal ini menjadikannya material utama dalam pembangunan tempat tinggal masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; yang bersifat semi-permanen.&lt;br /&gt;
[[File:I;ito.png|alt=dokumen soga|thumb|370x370px|pohon i&#039;ito]]&lt;br /&gt;
Salah satu tanaman yang menjadi identitas ekologis masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; adalah &#039;&#039;&#039;pohon &#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, keberadaan pohon nibung sering kali menjadi penanda lokasi komunitas Polahi karena banyak ditemukan di sekitar permukiman mereka. Informasi serupa disampaikan oleh Ela &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; &#039;&#039;(Polohungo)&#039;&#039; dan Ta’iniyo, yang menyatakan bahwa kawasan hutan tempat mereka tinggal dipenuhi oleh pohon &#039;&#039;i’ito.&#039;&#039; Pohon ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan berupa sayuran, tetapi juga dijadikan makanan pokok ketika bahan pangan lain sulit diperoleh. Ta Yanti, warga dari Desa Motolohu, menuturkan bahwa saat berada di kawasan tambang hutan Bunggadi, mereka sering mengandalkan pohon &#039;&#039;i’ito&#039;&#039; sebagai pengganti sayur atau ikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
# (Nur Hasanah dkk, 2019)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=I%27ito&amp;diff=66</id>
		<title>I&#039;ito</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=I%27ito&amp;diff=66"/>
		<updated>2026-06-25T06:32:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;i’ito&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;pohon &amp;#039;&amp;#039;i’ito&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;, yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan nama &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;ilito, membongo&amp;#039;&amp;#039;,&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;tanea&amp;#039;&amp;#039;,&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; dan secara umum disebut sebagai &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;pohon nibung&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; dalam bahasa Indonesia. Pohon &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;i’ito&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; termasuk dalam keluarga palma (Nur Hasanah dkk, 2019). Batangnya ditumbuhi duri besar berwarna kehitaman, dan memiliki struktur yang kuat serta kokoh. Hal ini menjadikannya material utama dalam pembangunan tempat tinggal masyaraka...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, atau &#039;&#039;&#039;pohon &#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan nama &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;ilito, membongo&#039;&#039;,&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;tanea&#039;&#039;,&#039;&#039;&#039; dan secara umum disebut sebagai &#039;&#039;&#039;pohon nibung&#039;&#039;&#039; dalam bahasa Indonesia. Pohon &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; termasuk dalam keluarga palma (Nur Hasanah dkk, 2019). Batangnya ditumbuhi duri besar berwarna kehitaman, dan memiliki struktur yang kuat serta kokoh. Hal ini menjadikannya material utama dalam pembangunan tempat tinggal masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; yang bersifat semi-permanen.&lt;br /&gt;
[[File:I;ito.png|alt=dokumen soga|thumb|370x370px|pohon i&#039;ito]]&lt;br /&gt;
Salah satu tanaman yang menjadi identitas ekologis masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; adalah &#039;&#039;&#039;pohon &#039;&#039;i’ito&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;, keberadaan pohon nibung sering kali menjadi penanda lokasi komunitas Polahi karena banyak ditemukan di sekitar permukiman mereka. Informasi serupa disampaikan oleh Ela &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; &#039;&#039;(Polohungo)&#039;&#039; dan Ta’iniyo, yang menyatakan bahwa kawasan hutan tempat mereka tinggal dipenuhi oleh pohon &#039;&#039;i’ito.&#039;&#039; Pohon ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan berupa sayuran, tetapi juga dijadikan makanan pokok ketika bahan pangan lain sulit diperoleh. Ta Yanti, warga dari Desa Motolohu, menuturkan bahwa saat berada di kawasan tambang hutan Bunggadi, mereka sering mengandalkan pohon &#039;&#039;i’ito&#039;&#039; sebagai pengganti sayur atau ikan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:I;ito.png&amp;diff=65</id>
		<title>File:I;ito.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:I;ito.png&amp;diff=65"/>
		<updated>2026-06-25T06:31:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumen soga&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Tombito&amp;diff=64</id>
		<title>Tombito</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Tombito&amp;diff=64"/>
		<updated>2026-06-25T05:29:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Woka.png|alt=dokumentasi Soga|thumb|243x243px|keranjang berbahan daun woka]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tombito,&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (sering disebut &#039;&#039;tombitoo&#039;&#039; atau &#039;&#039;pedito&#039;&#039;) masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; menggunakan daun woka&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt; tanaman palem (&#039;&#039;Livistona rotundifolia&#039;&#039;) &#039;&#039;tombito&#039;&#039; (atau &#039;&#039;pedito&#039;&#039;) sebagai penutup tubuh atau cawat yang dibuat dari anyaman daun woka (sejenis palem hutan/daun lontar). Tanaman ini tumbuh subur  di hutan Gorontalo dan Sulawesi Utara, &#039;&#039;tombito&#039;&#039; adalah nama lokal untuk tanaman palem hutan dengan nama ilmiah &#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039;. Secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat Gorontalo sebagai pembungkus kuliner khas (seperti duduli/dodol) serta dekorasi adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Livistona rotundifolia&#039;&#039; (Palem Sadeng/Woka) dan &#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039; (Palem Tombito) adalah dua jenis palem kipas endemik khas Sulawesi. Perbedaan utamanya terletak pada ukuran postur pohon, bentuk tajuk daun, dan kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah rincian perbedaan keduanya:&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Kriteria&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Livistona  rotundifolia&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Palem Sadeng /  Woka)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Palem Tombuto)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Tinggi Pohon&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Tumbuh tinggi  menjulang, bisa mencapai \(15\) meter.&lt;br /&gt;
|Tumbuh pendek, jarang mencapai \(4\)  meter (berperawakan semak/rendah).&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Bentuk Daun&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Daun lebar,  bundar menyerupai kipas besar.&lt;br /&gt;
|Daun berupa kipas atau jari-jari yang  berukuran lebih kecil (panjang helaian \(\approx 45 \text{ cm}\)).&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Batang&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Batang soliter  (tunggal), keras, dan bertekstur kasar.&lt;br /&gt;
|Batang kecil, biasanya bergerombol atau  tumbuh merumpun di dekat permukaan tanah.&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Fungsi / Manfaat&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Daun mudanya  sering dipakai untuk atap rumah dan pembungkus makanan tradisional (misal:  nasi kuning, dodol, gula merah).&lt;br /&gt;
|Daun muda lebih banyak diandalkan  sebagai bahan anyaman atap rumah dan pembungkus gula aren tradisional.&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= &amp;lt;small&amp;gt;Referensi&amp;lt;/small&amp;gt; =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula ( &#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot; &#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Masyarakat Adat Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Tombito&amp;diff=63</id>
		<title>Tombito</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Tombito&amp;diff=63"/>
		<updated>2026-06-25T05:21:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Woka.png|alt=dokumentasi Soga|thumb|243x243px|keranjang berbahan daun woka]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tombito,&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (sering disebut &#039;&#039;tombitoo&#039;&#039; atau &#039;&#039;pedito&#039;&#039;) masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; menggunakan daun woka tanaman palem (&#039;&#039;Livistona rotundifolia&#039;&#039;) &#039;&#039;tombito&#039;&#039; (atau &#039;&#039;pedito&#039;&#039;) sebagai penutup tubuh atau cawat yang dibuat dari anyaman daun woka (sejenis palem hutan/daun lontar). Tanaman ini tumbuh subur  di hutan Gorontalo dan Sulawesi Utara, &#039;&#039;tombito&#039;&#039; adalah nama lokal untuk tanaman palem hutan dengan nama ilmiah &#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039;. Secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat Gorontalo sebagai pembungkus kuliner khas (seperti duduli/dodol) serta dekorasi adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Livistona rotundifolia&#039;&#039; (Palem Sadeng/Woka) dan &#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039; (Palem Tombuto) adalah dua jenis palem kipas endemik khas Sulawesi. Perbedaan utamanya terletak pada ukuran postur pohon, bentuk tajuk daun, dan kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah rincian perbedaan keduanya:&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Kriteria&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Livistona  rotundifolia&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Palem Sadeng /  Woka)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Palem Tombuto)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Tinggi Pohon&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Tumbuh tinggi  menjulang, bisa mencapai \(15\) meter.&lt;br /&gt;
|Tumbuh pendek, jarang mencapai \(4\)  meter (berperawakan semak/rendah).&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Bentuk Daun&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Daun lebar,  bundar menyerupai kipas besar.&lt;br /&gt;
|Daun berupa kipas atau jari-jari yang  berukuran lebih kecil (panjang helaian \(\approx 45 \text{ cm}\)).&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Batang&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Batang soliter  (tunggal), keras, dan bertekstur kasar.&lt;br /&gt;
|Batang kecil, biasanya bergerombol atau  tumbuh merumpun di dekat permukaan tanah.&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Fungsi / Manfaat&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Daun mudanya  sering dipakai untuk atap rumah dan pembungkus makanan tradisional (misal:  nasi kuning, dodol, gula merah).&lt;br /&gt;
|Daun muda lebih banyak diandalkan  sebagai bahan anyaman atap rumah dan pembungkus gula aren tradisional.&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= &amp;lt;small&amp;gt;Referensi&amp;lt;/small&amp;gt; =&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Tombito&amp;diff=62</id>
		<title>Tombito</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Tombito&amp;diff=62"/>
		<updated>2026-06-25T05:17:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;keranjang berbabahan daun woka &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Tombito,&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (sering disebut &amp;#039;&amp;#039;tombitoo&amp;#039;&amp;#039; atau &amp;#039;&amp;#039;pedito&amp;#039;&amp;#039;) masyarakat &amp;#039;&amp;#039;Polahi&amp;#039;&amp;#039; menggunakan daun woka tanaman palem (&amp;#039;&amp;#039;Livistona rotundifolia&amp;#039;&amp;#039;) &amp;#039;&amp;#039;tombito&amp;#039;&amp;#039; (atau &amp;#039;&amp;#039;pedito&amp;#039;&amp;#039;) sebagai penutup tubuh atau cawat yang dibuat dari anyaman daun woka (sejenis palem hutan/daun lontar). Tanaman ini tumbuh subur  di hutan Gorontalo dan Sulawesi Utara, &amp;#039;&amp;#039;tombito&amp;#039;&amp;#039; adalah nama lokal untuk ta...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Woka.png|alt=dokumentasi Soga|thumb|243x243px|keranjang berbabahan daun woka]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tombito,&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (sering disebut &#039;&#039;tombitoo&#039;&#039; atau &#039;&#039;pedito&#039;&#039;) masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; menggunakan daun woka tanaman palem (&#039;&#039;Livistona rotundifolia&#039;&#039;) &#039;&#039;tombito&#039;&#039; (atau &#039;&#039;pedito&#039;&#039;) sebagai penutup tubuh atau cawat yang dibuat dari anyaman daun woka (sejenis palem hutan/daun lontar). Tanaman ini tumbuh subur  di hutan Gorontalo dan Sulawesi Utara, &#039;&#039;tombito&#039;&#039; adalah nama lokal untuk tanaman palem hutan dengan nama ilmiah &#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039;. Secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat Gorontalo sebagai pembungkus kuliner khas (seperti duduli/dodol) serta dekorasi adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Livistona rotundifolia&#039;&#039; (Palem Sadeng/Woka) dan &#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039; (Palem Tombuto) adalah dua jenis palem kipas endemik khas Sulawesi. Perbedaan utamanya terletak pada ukuran postur pohon, bentuk tajuk daun, dan kegunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah rincian perbedaan keduanya:&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Kriteria&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Livistona  rotundifolia&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Palem Sadeng /  Woka)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Licuala celebica&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;(Palem Tombuto)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Tinggi Pohon&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Tumbuh tinggi  menjulang, bisa mencapai \(15\) meter.&lt;br /&gt;
|Tumbuh pendek, jarang mencapai \(4\)  meter (berperawakan semak/rendah).&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Bentuk Daun&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Daun lebar,  bundar menyerupai kipas besar.&lt;br /&gt;
|Daun berupa kipas atau jari-jari yang  berukuran lebih kecil (panjang helaian \(\approx 45 \text{ cm}\)).&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Batang&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Batang soliter  (tunggal), keras, dan bertekstur kasar.&lt;br /&gt;
|Batang kecil, biasanya bergerombol atau  tumbuh merumpun di dekat permukaan tanah.&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Fungsi / Manfaat&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|Daun mudanya  sering dipakai untuk atap rumah dan pembungkus makanan tradisional (misal:  nasi kuning, dodol, gula merah).&lt;br /&gt;
|Daun muda lebih banyak diandalkan  sebagai bahan anyaman atap rumah dan pembungkus gula aren tradisional.&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Woka.png&amp;diff=61</id>
		<title>File:Woka.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Woka.png&amp;diff=61"/>
		<updated>2026-06-25T05:15:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;keranjang&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Pedi&amp;diff=60</id>
		<title>Pedi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Pedi&amp;diff=60"/>
		<updated>2026-06-19T05:37:57Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Media batu ak1k.png|thumb|300x300px]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Pedi&#039;&#039;&#039;, Praktik ilmu gaib berupa mantra, simbol simbol atau menggunakan media yang dimantrakan&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;,  dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan sebutan &#039;&#039;pedi&#039;&#039;. Kepercayaan terhadap &#039;&#039;pedi&#039;&#039; bagian dari budaya Polahi dan menyebar di kalangan masyarakat kampung hingga masyarakat kota di Gorontalo. Ilmu &#039;&#039;pedi&#039;&#039; diyakini dapat menyebabkan berbagai macam gangguan fisik dan psikis, seperti perut yang membengkak seolah-olah hendak pecah, nyeri dada yang akut, sakit kepala hebat, kondisi kerasukan yang menyebabkan tubuh terasa ingin terbang, sensasi mata seperti akan copot, hingga fenomena aneh seperti keluarnya benda gaib dari mulut atau tubuh (dikenal dengan istilah &#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/index.php?kategori=semua&amp;amp;kata=huhemo huhemo]&#039;&#039;) dan gejala lainnya. Meskipun masih banyak masyarakat Gorontalo yang mempercayai keberadaan &#039;&#039;ilmu pedi&#039;&#039;, terdapat pula sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai takhayul dan tidak mempercayainya sama sekali. Namun demikian, praktik-praktik terkait &#039;&#039;pedi&#039;&#039; masih dijumpai di beberapa wilayah dan dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat sebagai bagian dari warisan ilmu tradisional yang digunakan untuk sesuatu hal gaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu do’a masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; yang diamalkan sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan ilmu hitam atau santet (&#039;&#039;pedi&#039;&#039;) : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Mo’ipokudu lati, botu lo pokudu lati&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Popoluwala to pinthu lo halawati (pohinggi bisa lo pedi)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Pinthu lo halawati&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Popoluwalo to botu lo pokudu lati...&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
Andriliwan Muhammad dkk, 2023&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Pedi&amp;diff=59</id>
		<title>Pedi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Pedi&amp;diff=59"/>
		<updated>2026-06-19T05:28:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Media batu ak1k.png|thumb|300x300px]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Pedi&#039;&#039;&#039;, Praktik ilmu gaib berupa mantra atau santet&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;, yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan sebutan &#039;&#039;pedi&#039;&#039;. Kepercayaan terhadap &#039;&#039;pedi&#039;&#039; bagian dari budaya Polahi dan menyebar di kalangan masyarakat kampung hingga masyarakat kota di Gorontalo. Ilmu &#039;&#039;pedi&#039;&#039; diyakini dapat menyebabkan berbagai macam gangguan fisik dan psikis, seperti perut yang membengkak seolah-olah hendak pecah, nyeri dada yang akut, sakit kepala hebat, kondisi kerasukan yang menyebabkan tubuh terasa ingin terbang, sensasi mata seperti akan copot, hingga fenomena aneh seperti keluarnya benda gaib dari mulut atau tubuh (dikenal dengan istilah &#039;&#039;huhemo&#039;&#039;) dan gejala lainnya. Meskipun masih banyak masyarakat Gorontalo yang mempercayai keberadaan &#039;&#039;ilmu pedi&#039;&#039;, terdapat pula sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai takhayul dan tidak mempercayainya sama sekali. Namun demikian, praktik-praktik terkait &#039;&#039;pedi&#039;&#039; masih dijumpai di beberapa wilayah dan dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat sebagai bagian dari warisan ilmu tradisional yang digunakan untuk sesuatu hal gaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu do’a masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; yang diamalkan sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan ilmu hitam atau santet (&#039;&#039;pedi&#039;&#039;) : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Mo’ipokudu lati, botu lo pokudu lati&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Popoluwala to pinthu lo halawati (pohinggi bisa lo pedi)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Pinthu lo halawati&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Popoluwalo to botu lo pokudu lati...&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
Andriliwan Muhammad dkk, 2023&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Media_batu_ak1k.png&amp;diff=58</id>
		<title>File:Media batu ak1k.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Media_batu_ak1k.png&amp;diff=58"/>
		<updated>2026-06-19T05:24:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumentasi adit&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Pedi&amp;diff=57</id>
		<title>Pedi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Pedi&amp;diff=57"/>
		<updated>2026-06-19T05:07:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;media batu ak1k  ==== Pedi, Praktik ilmu gaib berupa mantra atau santet (Andriliwan Muhammad dkk, 2023), yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan sebutan &amp;#039;&amp;#039;pedi&amp;#039;&amp;#039;. Kepercayaan terhadap &amp;#039;&amp;#039;pedi&amp;#039;&amp;#039; bagian dari budaya Polahi dan menyebar di kalangan masyarakat kampung hingga masyarakat kota di Gorontalo. Ilmu &amp;#039;&amp;#039;pedi&amp;#039;&amp;#039; diyakini dapat menyebabkan berbagai macam gangguan fisik dan psikis, seperti perut yang mem...&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Media batu akik1.png|alt=dokumentasi adit|thumb|300x300px|media batu ak1k]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pedi, Praktik ilmu gaib berupa mantra atau santet (Andriliwan Muhammad dkk, 2023), yang dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan sebutan &#039;&#039;pedi&#039;&#039;. Kepercayaan terhadap &#039;&#039;pedi&#039;&#039; bagian dari budaya Polahi dan menyebar di kalangan masyarakat kampung hingga masyarakat kota di Gorontalo. Ilmu &#039;&#039;pedi&#039;&#039; diyakini dapat menyebabkan berbagai macam gangguan fisik dan psikis, seperti perut yang membengkak seolah-olah hendak pecah, nyeri dada yang akut, sakit kepala hebat, kondisi kerasukan yang menyebabkan tubuh terasa ingin terbang, sensasi mata seperti akan copot, hingga fenomena aneh seperti keluarnya kepiting dari mulut atau tubuh (dikenal dengan istilah &#039;&#039;huhemo&#039;&#039;) dan gejala lainnya. Meskipun masih banyak masyarakat Gorontalo yang mempercayai keberadaan &#039;&#039;ilmu pedi&#039;&#039;, terdapat pula sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai takhayul dan tidak mempercayainya sama sekali. Namun demikian, praktik-praktik terkait &#039;&#039;pedi&#039;&#039; masih dijumpai di beberapa wilayah dan dipercaya oleh sebagian kalangan sebagai bagian dari warisan ilmu tradisional yang digunakan untuk mencelakai orang yang tidak disukai. ==== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu do’a masyarakat &#039;&#039;Polahi&#039;&#039; yang diamalkan sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan ilmu hitam atau santet (&#039;&#039;pedi&#039;&#039;) : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Mo’ipokudu lati, botu lo pokudu lati&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Popoluwala to pinthu lo halawati (pohinggi bisa lo pedi)&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Pinthu lo halawati&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Popoluwalo to botu lo pokudu lati...&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Media_batu_akik1.png&amp;diff=56</id>
		<title>File:Media batu akik1.png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Media_batu_akik1.png&amp;diff=56"/>
		<updated>2026-06-19T05:07:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumentasi adit&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Media_batu_akik.jpg&amp;diff=55</id>
		<title>File:Media batu akik.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Media_batu_akik.jpg&amp;diff=55"/>
		<updated>2026-06-19T05:00:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumentasi adit&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=54</id>
		<title>Polahi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=54"/>
		<updated>2026-06-18T04:29:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Rumah polahi 1.png|thumb|296x296px|Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;[https://kamusgorontalo.com/?kategori=semua&amp;amp;kata=polahi Polahi]&#039;&#039;&#039;, Masyarakat Polahi merupakan Masyarakat Gorontalo yang melakukan eksodus (meninggalkan tempat asal) untuk menghindari tekanan pemerintahan Kolonial Belanda&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 1]&amp;lt;/sup&amp;gt; Penolakan terhadap pajak&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt;, kekhawatiran akan penindasan, serta keengganan mematuhi regulasi kolonial mendorong mereka melarikan diri ke kawasan hutan pedalaman. Secara leksikal, istilah Polahi bermakna “orang yang melarikan diri” atau “pelarian dari suatu tempat”. Keberadaan komunitas ini kemudian memunculkan berbagai mitos di tengah masyarakat Gorontalo, seperti kepercayaan bahwa mereka memiliki kemampuan menghilang, kekuatan magis dan ilmu kebal, serta disebut-sebut dapat membunuh orang luar yang tersesat di hutan. Dalam perspektif mitologi lokal, masyarakat Polahi terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni kelompok yang menetap di Pegunungan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, dan kelompok yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila serta kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi merupakan masyarakat adat yang hingga kini masih ada dan bertahan hidup di kawasan hutan dan Pegunungan.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (2025), &amp;quot;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Indigenous People Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|3]]&amp;lt;/sup&amp;gt; Secara historis, mereka dikenal sebagai kelompok yang memilih hidup mengasingkan diri sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial Belanda.&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 4]&amp;lt;/sup&amp;gt; Pilihan tersebut tidak semata-mata mencerminkan keterpisahan sosial, melainkan merepresentasikan sikap ideologis dan kultural yang membentuk sistem nilai, pola hidup, serta praktik kebahasaan yang khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Polahi menunjukkan corak budaya yang berbeda dari masyarakat kampung. Sistem nilai dan norma sosial mereka tercermin dalam pola komunikasi yang cenderung langsung, lugas, dan menekankan makna tekstual atau denotatif, dengan minim penggunaan makna konotatif. Karakteristik ini menempatkan masyarakat Polahi sebagai kelompok yang tidak hanya terpisah secara geografis, tetapi juga secara linguistik dan kultural.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Tilongkabila == &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa warga dan aparat setempat di Kecamatan Suwawa Timur dan Kecamatan Pinogu, diketahui bahwa keberadaan Polahi di [https://www.google.com/maps/place/Pegunungan+Tilongkabila/@0.54,123.2133333,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327ed6fd8cfe53c7:0x6212c59505891bd1!8m2!3d0.54!4d123.2133333!16s%2Fg%2F11cr_w845c!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Tilongkabila]&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; sering kali tidak dapat diamati secara kasat mata. Ka Une warga Desa Poduwama menyampaikan bahwa di kawasan tersebut terdapat kampung dan masjid yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Meskipun kerap dikaitkan dengan unsur mistik, masyarakat Polahi diyakini bukan makhluk gaib atau jin, melainkan manusia biasa yang memiliki nama, marga, dan penampilan fisik layaknya manusia pada umumnya. Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, mereka disebut mulai mengenakan pakaian secara lebih teratur sebagaimana masyarakat umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Pinogu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Polahi Pinogu ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila memiliki banyak nuansa mistis. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai tempat keberadaan Polahi adalah [https://www.google.com/maps/place/Pinogu,+Dataran+Hijau,+Kec.+Pinogu,+Kabupaten+Bone+Bolango,+Gorontalo/@0.4951414,123.4300993,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f1ff846332ed1:0x91237a3d149f7292!8m2!3d0.49512!4d123.440399!16s%2Fg%2F12q4_56_w!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pinogu], yang terletak di atas kawasan [https://www.google.com/maps/place/Taman+nasional+bogani+Nani+wartabone(PINOGU)/@0.4730679,123.3149876,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f27001b3093f1:0x17bf6b859cc5f4c4!8m2!3d0.4730625!4d123.3175625!16s%2Fg%2F11vxqpr932!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Taman Nasional Bogani Nani Wartabone] Kabupaten Bone Bolango. Untuk mencapai daerah ini, pengunjung biasanya menggunakan jasa ojek motor gunung dari Desa Tulabolo menuju Desa Pinogu, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dan biaya sewa berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000. Pinogu itu sendiri dikenal memiliki sejumlah cerita mistis, di antaranya adalah legenda Polahi di Sabua Delapan, keberadaan kubur keramat, buaya mistik yang sering dikaitkan dengan jembatan gantung Pinogu, serta praktik ilmu pedi yang diwariskan secara turun-temurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Boliyohuto ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polahi dipercaya oleh masyarakat sekitar akan muncul ketika mereka merasa terusik oleh aktivitas warga kampung. Polahi Boliyohuto, Mitos yang berkembang dalam masyarakat Polahi yang bermukim di [https://www.google.com/maps/place/Puncak+Ile+Ile+Pegunungan+Boliyohuto/@0.886135,122.5047701,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x32797105eeb1a1e3:0xccbea206ea34ab6b!8m2!3d0.8861296!4d122.507345!16s%2Fg%2F11nxck87ny!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Boliyohuto] cukup beragam. Beberapa di antaranya menyebut bahwa masyarakat Polahi memiliki kemampuan supranatural &amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; seperti dapat menghilang, memiliki ilmu kebal, kemampuan guna-guna terhadap orang yang tidak disukai, menyembuhkan penyakit secara nonmedis, hingga diyakini dapat mencelakai atau bahkan membunuh warga kampung. Namun demikian, berdasarkan hasil wawancara dengan warga dan aparat setempat, diketahui bahwa masyarakat Polahi di Boliyohuto sebenarnya telah berinteraksi dengan masyarakat kampung selama beberapa dekade terakhir. Interaksi tersebut bermula sejak adanya pertemuan tidak sengaja antara masyarakat pencari rotan dengan kelompok Polahi di wilayah pegunungan Boliyohuto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat Polahi seperti [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Raja_Polahi_Babuta Raja Polahi Babuta], Lahiya (atau Kambo), dan [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;amp;veaction=edit Bapu Yunus Nani], mereka menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki kemampuan seperti ilmu kebal atau kemampuan untuk menghilang. Namun beberapa anggota masyarakat Polahi masih menggunakan bentuk-bentuk pengetahuan tradisional tertentu yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Misalnya, Lahiya seorang anggota komunitas Polahi yang kini tinggal di Desa Lawonu, Kecamatan Telaga masih mempraktikkan penggunaan jimat-jimat khusus untuk membantu pencarian korban tenggelam akibat banjir di sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Asparaga ===&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Asparaga meliputi wilayah desa bihe dan desa pangahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Tolangohula ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Tolangohula meliputi wilayah Desa Bina Jaya, Air Terjun Tumba di Desa Tamaila, Desa Polohungo, serta wilayah sekitar Gunung Muhulo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/search/authors/view?firstName=Karina&amp;amp;middleName=Nataya&amp;amp;lastName=Walenta&amp;amp;affiliation=Pascasarjana%20Universitas%20Negeri%20Gorontalo&amp;amp;country=ID Karina Nataya Walenta], Nur Mohamad Kasim, Lusiana Margaret Tijow [https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 &amp;quot;&#039;&#039;Pemenuhan Hak Konstitusional Masyarakat Adat Suku Polahi di Bidang Ketenagakerjaan &amp;quot;&#039;&#039;] PILAR Jurnal Hukum Philosophia, UNG JIlid 2 Nomor 1 Mei 2022&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 Samsi Pomalinago], [https://ung.ac.id/formasi/people/197607292006041001 Sukirman Rahim], (2020) , [https://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/10014/sukirman-rahim-buku-potret-etnografi-masyarakat-polahi.html &amp;quot;&#039;&#039;Potret Etnografi Masyarakat Polahi&#039;&#039;&amp;quot;],  (Gorontalo: Ideas Publishing)&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (&#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot;&#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Indigenous People Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Yasin Kulimba, Wawan K Tolinggi, Amelia Murtisari&#039;&#039;,&#039;&#039; (2019) &#039;&#039;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 &amp;quot;Perilaku Komunitas Polahi Dalam Pemanfaatan Lahan Pertanian Di Desa Bina Jaya Kecamatan Tolangohula Kabupaten Gorontalo&amp;quot;]  AGRINESIA - Jurnal Ilmiah Agribisnis,&#039;&#039; UNG Vil 3, No 3&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=53</id>
		<title>Polahi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=53"/>
		<updated>2026-06-11T04:34:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Rumah polahi 1.png|thumb|296x296px|Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Polahi&#039;&#039;&#039;, Masyarakat Polahi merupakan Masyarakat Gorontalo yang melakukan eksodus (meninggalkan tempat asal) untuk menghindari tekanan pemerintahan Kolonial Belanda&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 1]&amp;lt;/sup&amp;gt; Penolakan terhadap pajak&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt;, kekhawatiran akan penindasan, serta keengganan mematuhi regulasi kolonial mendorong mereka melarikan diri ke kawasan hutan pedalaman. Secara leksikal, istilah Polahi bermakna “orang yang melarikan diri” atau “pelarian dari suatu tempat”. Keberadaan komunitas ini kemudian memunculkan berbagai mitos di tengah masyarakat Gorontalo, seperti kepercayaan bahwa mereka memiliki kemampuan menghilang, kekuatan magis dan ilmu kebal, serta disebut-sebut dapat membunuh orang luar yang tersesat di hutan. Dalam perspektif mitologi lokal, masyarakat Polahi terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni kelompok yang menetap di Pegunungan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, dan kelompok yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila serta kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi merupakan masyarakat adat yang hingga kini masih ada dan bertahan hidup di kawasan hutan dan Pegunungan.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (2025), &amp;quot;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Indigenous People Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|3]]&amp;lt;/sup&amp;gt; Secara historis, mereka dikenal sebagai kelompok yang memilih hidup mengasingkan diri sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial Belanda.&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 4]&amp;lt;/sup&amp;gt; Pilihan tersebut tidak semata-mata mencerminkan keterpisahan sosial, melainkan merepresentasikan sikap ideologis dan kultural yang membentuk sistem nilai, pola hidup, serta praktik kebahasaan yang khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Polahi menunjukkan corak budaya yang berbeda dari masyarakat kampung. Sistem nilai dan norma sosial mereka tercermin dalam pola komunikasi yang cenderung langsung, lugas, dan menekankan makna tekstual atau denotatif, dengan minim penggunaan makna konotatif. Karakteristik ini menempatkan masyarakat Polahi sebagai kelompok yang tidak hanya terpisah secara geografis, tetapi juga secara linguistik dan kultural.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Tilongkabila == &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa warga dan aparat setempat di Kecamatan Suwawa Timur dan Kecamatan Pinogu, diketahui bahwa keberadaan Polahi di [https://www.google.com/maps/place/Pegunungan+Tilongkabila/@0.54,123.2133333,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327ed6fd8cfe53c7:0x6212c59505891bd1!8m2!3d0.54!4d123.2133333!16s%2Fg%2F11cr_w845c!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Tilongkabila]&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; sering kali tidak dapat diamati secara kasat mata. Ka Une warga Desa Poduwama menyampaikan bahwa di kawasan tersebut terdapat kampung dan masjid yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Meskipun kerap dikaitkan dengan unsur mistik, masyarakat Polahi diyakini bukan makhluk gaib atau jin, melainkan manusia biasa yang memiliki nama, marga, dan penampilan fisik layaknya manusia pada umumnya. Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, mereka disebut mulai mengenakan pakaian secara lebih teratur sebagaimana masyarakat umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Pinogu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Polahi Pinogu ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila memiliki banyak nuansa mistis. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai tempat keberadaan Polahi adalah [https://www.google.com/maps/place/Pinogu,+Dataran+Hijau,+Kec.+Pinogu,+Kabupaten+Bone+Bolango,+Gorontalo/@0.4951414,123.4300993,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f1ff846332ed1:0x91237a3d149f7292!8m2!3d0.49512!4d123.440399!16s%2Fg%2F12q4_56_w!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pinogu], yang terletak di atas kawasan [https://www.google.com/maps/place/Taman+nasional+bogani+Nani+wartabone(PINOGU)/@0.4730679,123.3149876,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f27001b3093f1:0x17bf6b859cc5f4c4!8m2!3d0.4730625!4d123.3175625!16s%2Fg%2F11vxqpr932!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Taman Nasional Bogani Nani Wartabone] Kabupaten Bone Bolango. Untuk mencapai daerah ini, pengunjung biasanya menggunakan jasa ojek motor gunung dari Desa Tulabolo menuju Desa Pinogu, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dan biaya sewa berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000. Pinogu itu sendiri dikenal memiliki sejumlah cerita mistis, di antaranya adalah legenda Polahi di Sabua Delapan, keberadaan kubur keramat, buaya mistik yang sering dikaitkan dengan jembatan gantung Pinogu, serta praktik ilmu pedi yang diwariskan secara turun-temurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Boliyohuto ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polahi dipercaya oleh masyarakat sekitar akan muncul ketika mereka merasa terusik oleh aktivitas warga kampung. Polahi Boliyohuto, Mitos yang berkembang dalam masyarakat Polahi yang bermukim di [https://www.google.com/maps/place/Puncak+Ile+Ile+Pegunungan+Boliyohuto/@0.886135,122.5047701,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x32797105eeb1a1e3:0xccbea206ea34ab6b!8m2!3d0.8861296!4d122.507345!16s%2Fg%2F11nxck87ny!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Boliyohuto] cukup beragam. Beberapa di antaranya menyebut bahwa masyarakat Polahi memiliki kemampuan supranatural &amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; seperti dapat menghilang, memiliki ilmu kebal, kemampuan guna-guna terhadap orang yang tidak disukai, menyembuhkan penyakit secara nonmedis, hingga diyakini dapat mencelakai atau bahkan membunuh warga kampung. Namun demikian, berdasarkan hasil wawancara dengan warga dan aparat setempat, diketahui bahwa masyarakat Polahi di Boliyohuto sebenarnya telah berinteraksi dengan masyarakat kampung selama beberapa dekade terakhir. Interaksi tersebut bermula sejak adanya pertemuan tidak sengaja antara masyarakat pencari rotan dengan kelompok Polahi di wilayah pegunungan Boliyohuto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat Polahi seperti [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php/Raja_Polahi_Babuta Raja Polahi Babuta], Lahiya (atau Kambo), dan [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;amp;veaction=edit Bapu Yunus Nani], mereka menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki kemampuan seperti ilmu kebal atau kemampuan untuk menghilang. Namun beberapa anggota masyarakat Polahi masih menggunakan bentuk-bentuk pengetahuan tradisional tertentu yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Misalnya, Lahiya seorang anggota komunitas Polahi yang kini tinggal di Desa Lawonu, Kecamatan Telaga masih mempraktikkan penggunaan jimat-jimat khusus untuk membantu pencarian korban tenggelam akibat banjir di sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Asparaga ===&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Asparaga meliputi wilayah desa bihe dan desa pangahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Tolangohula ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Tolangohula meliputi wilayah Desa Bina Jaya, Air Terjun Tumba di Desa Tamaila, Desa Polohungo, serta wilayah sekitar Gunung Muhulo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/search/authors/view?firstName=Karina&amp;amp;middleName=Nataya&amp;amp;lastName=Walenta&amp;amp;affiliation=Pascasarjana%20Universitas%20Negeri%20Gorontalo&amp;amp;country=ID Karina Nataya Walenta], Nur Mohamad Kasim, Lusiana Margaret Tijow [https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 &amp;quot;&#039;&#039;Pemenuhan Hak Konstitusional Masyarakat Adat Suku Polahi di Bidang Ketenagakerjaan &amp;quot;&#039;&#039;] PILAR Jurnal Hukum Philosophia, UNG JIlid 2 Nomor 1 Mei 2022&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 Samsi Pomalinago], [https://ung.ac.id/formasi/people/197607292006041001 Sukirman Rahim], (2020) , [https://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/10014/sukirman-rahim-buku-potret-etnografi-masyarakat-polahi.html &amp;quot;&#039;&#039;Potret Etnografi Masyarakat Polahi&#039;&#039;&amp;quot;],  (Gorontalo: Ideas Publishing)&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (&#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot;&#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Indigenous People Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Yasin Kulimba, Wawan K Tolinggi, Amelia Murtisari&#039;&#039;,&#039;&#039; (2019) &#039;&#039;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 &amp;quot;Perilaku Komunitas Polahi Dalam Pemanfaatan Lahan Pertanian Di Desa Bina Jaya Kecamatan Tolangohula Kabupaten Gorontalo&amp;quot;]  AGRINESIA - Jurnal Ilmiah Agribisnis,&#039;&#039; UNG Vil 3, No 3&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Raja_Polahi_Babuta&amp;diff=52</id>
		<title>Raja Polahi Babuta</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Raja_Polahi_Babuta&amp;diff=52"/>
		<updated>2026-06-11T04:30:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot;Raja Babuta, adalah masyarakat Polahi dari keturunan Baba Niyo dan Ta Aniyo atau Anthuyingo. yang pernah diliput oleh tim ekspedisi TVRI pada tahun 1995. Pasangan ini memiliki 3 anak yaitu: Halimu, Babuta (Te Raja), Laiya (Te Kambo).&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Te Raja .png|alt=Dokumentasi, Soga|border|thumb|327x327px|Raja]]&lt;br /&gt;
Babuta, adalah masyarakat Polahi dari keturunan Baba Niyo dan Ta Aniyo atau Anthuyingo. yang pernah diliput oleh tim ekspedisi TVRI pada tahun 1995. Pasangan ini memiliki 3 anak yaitu: Halimu, Babuta (Te Raja), Laiya (Te Kambo).&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Te_Raja_.png&amp;diff=51</id>
		<title>File:Te Raja .png</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Te_Raja_.png&amp;diff=51"/>
		<updated>2026-06-11T04:27:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumentasi, Soga&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Raja.jpg&amp;diff=50</id>
		<title>File:Raja.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=File:Raja.jpg&amp;diff=50"/>
		<updated>2026-06-11T04:25:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;dokumentasi, Soga&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=49</id>
		<title>Polahi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Polahi&amp;diff=49"/>
		<updated>2026-06-11T04:14:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: /* Polahi Pinogu */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[File:Rumah polahi 1.png|thumb|296x296px|Dokumentasi Soga]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Polahi&#039;&#039;&#039;, Masyarakat Polahi merupakan Masyarakat Gorontalo yang melakukan eksodus (meninggalkan tempat asal) untuk menghindari tekanan pemerintahan Kolonial Belanda&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 1]&amp;lt;/sup&amp;gt; Penolakan terhadap pajak&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt;, kekhawatiran akan penindasan, serta keengganan mematuhi regulasi kolonial mendorong mereka melarikan diri ke kawasan hutan pedalaman. Secara leksikal, istilah Polahi bermakna “orang yang melarikan diri” atau “pelarian dari suatu tempat”. Keberadaan komunitas ini kemudian memunculkan berbagai mitos di tengah masyarakat Gorontalo, seperti kepercayaan bahwa mereka memiliki kemampuan menghilang, kekuatan magis dan ilmu kebal, serta disebut-sebut dapat membunuh orang luar yang tersesat di hutan. Dalam perspektif mitologi lokal, masyarakat Polahi terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni kelompok yang menetap di Pegunungan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, dan kelompok yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila serta kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi merupakan masyarakat adat yang hingga kini masih ada dan bertahan hidup di kawasan hutan dan Pegunungan.&amp;lt;sup&amp;gt;[[Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (2025), &amp;quot;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa Indigenous People Polahi Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab|3]]&amp;lt;/sup&amp;gt; Secara historis, mereka dikenal sebagai kelompok yang memilih hidup mengasingkan diri sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial Belanda.&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 4]&amp;lt;/sup&amp;gt; Pilihan tersebut tidak semata-mata mencerminkan keterpisahan sosial, melainkan merepresentasikan sikap ideologis dan kultural yang membentuk sistem nilai, pola hidup, serta praktik kebahasaan yang khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Polahi menunjukkan corak budaya yang berbeda dari masyarakat kampung. Sistem nilai dan norma sosial mereka tercermin dalam pola komunikasi yang cenderung langsung, lugas, dan menekankan makna tekstual atau denotatif, dengan minim penggunaan makna konotatif. Karakteristik ini menempatkan masyarakat Polahi sebagai kelompok yang tidak hanya terpisah secara geografis, tetapi juga secara linguistik dan kultural.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Tilongkabila == &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa warga dan aparat setempat di Kecamatan Suwawa Timur dan Kecamatan Pinogu, diketahui bahwa keberadaan Polahi di [https://www.google.com/maps/place/Pegunungan+Tilongkabila/@0.54,123.2133333,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327ed6fd8cfe53c7:0x6212c59505891bd1!8m2!3d0.54!4d123.2133333!16s%2Fg%2F11cr_w845c!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Tilongkabila]&amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; sering kali tidak dapat diamati secara kasat mata. Ka Une warga Desa Poduwama menyampaikan bahwa di kawasan tersebut terdapat kampung dan masjid yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Meskipun kerap dikaitkan dengan unsur mistik, masyarakat Polahi diyakini bukan makhluk gaib atau jin, melainkan manusia biasa yang memiliki nama, marga, dan penampilan fisik layaknya manusia pada umumnya. Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, mereka disebut mulai mengenakan pakaian secara lebih teratur sebagaimana masyarakat umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Pinogu ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Polahi Pinogu ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Polahi yang bermukim di Pegunungan Tilongkabila memiliki banyak nuansa mistis. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai tempat keberadaan Polahi adalah [https://www.google.com/maps/place/Pinogu,+Dataran+Hijau,+Kec.+Pinogu,+Kabupaten+Bone+Bolango,+Gorontalo/@0.4951414,123.4300993,4347m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f1ff846332ed1:0x91237a3d149f7292!8m2!3d0.49512!4d123.440399!16s%2Fg%2F12q4_56_w!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pinogu], yang terletak di atas kawasan [https://www.google.com/maps/place/Taman+nasional+bogani+Nani+wartabone(PINOGU)/@0.4730679,123.3149876,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x327f27001b3093f1:0x17bf6b859cc5f4c4!8m2!3d0.4730625!4d123.3175625!16s%2Fg%2F11vxqpr932!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Taman Nasional Bogani Nani Wartabone] Kabupaten Bone Bolango. Untuk mencapai daerah ini, pengunjung biasanya menggunakan jasa ojek motor gunung dari Desa Tulabolo menuju Desa Pinogu, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dan biaya sewa berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000. Pinogu itu sendiri dikenal memiliki sejumlah cerita mistis, di antaranya adalah legenda Polahi di Sabua Delapan, keberadaan kubur keramat, buaya mistik yang sering dikaitkan dengan jembatan gantung Pinogu, serta praktik ilmu pedi yang diwariskan secara turun-temurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Polahi Boliyohuto ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polahi dipercaya oleh masyarakat sekitar akan muncul ketika mereka merasa terusik oleh aktivitas warga kampung. Polahi Boliyohuto, Mitos yang berkembang dalam masyarakat Polahi yang bermukim di [https://www.google.com/maps/place/Puncak+Ile+Ile+Pegunungan+Boliyohuto/@0.886135,122.5047701,1087m/data=!3m2!1e3!4b1!4m6!3m5!1s0x32797105eeb1a1e3:0xccbea206ea34ab6b!8m2!3d0.8861296!4d122.507345!16s%2Fg%2F11nxck87ny!5m1!1e4?entry=ttu&amp;amp;g_ep=EgoyMDI2MDYwMS4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D Pegunungan Boliyohuto] cukup beragam. Beberapa di antaranya menyebut bahwa masyarakat Polahi memiliki kemampuan supranatural &amp;lt;sup&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 2]&amp;lt;/sup&amp;gt; seperti dapat menghilang, memiliki ilmu kebal, kemampuan guna-guna terhadap orang yang tidak disukai, menyembuhkan penyakit secara nonmedis, hingga diyakini dapat mencelakai atau bahkan membunuh warga kampung. Namun demikian, berdasarkan hasil wawancara dengan warga dan aparat setempat, diketahui bahwa masyarakat Polahi di Boliyohuto sebenarnya telah berinteraksi dengan masyarakat kampung selama beberapa dekade terakhir. Interaksi tersebut bermula sejak adanya pertemuan tidak sengaja antara masyarakat pencari rotan dengan kelompok Polahi di wilayah pegunungan Boliyohuto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat Polahi seperti Raja Polahi Babuta, Lahiya (atau Kambo), dan [https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Bapu_Yunus_Nani&amp;amp;veaction=edit Bapu Yunus Nani], mereka menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki kemampuan seperti ilmu kebal atau kemampuan untuk menghilang. Namun beberapa anggota masyarakat Polahi masih menggunakan bentuk-bentuk pengetahuan tradisional tertentu yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Misalnya, Lahiya seorang anggota komunitas Polahi yang kini tinggal di Desa Lawonu, Kecamatan Telaga masih mempraktikkan penggunaan jimat-jimat khusus untuk membantu pencarian korban tenggelam akibat banjir di sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Asparaga ===&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Asparaga meliputi wilayah desa bihe dan desa pangahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Polahi Kecamatan Tolangohula ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persebaran masyarakat Polahi di Kecamatan Tolangohula meliputi wilayah Desa Bina Jaya, Air Terjun Tumba di Desa Tamaila, Desa Polohungo, serta wilayah sekitar Gunung Muhulo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &#039;&#039;Referensi&#039;&#039; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# &amp;lt;small&amp;gt;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/search/authors/view?firstName=Karina&amp;amp;middleName=Nataya&amp;amp;lastName=Walenta&amp;amp;affiliation=Pascasarjana%20Universitas%20Negeri%20Gorontalo&amp;amp;country=ID Karina Nataya Walenta], Nur Mohamad Kasim, Lusiana Margaret Tijow [https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/plr/article/view/14125 &amp;quot;&#039;&#039;Pemenuhan Hak Konstitusional Masyarakat Adat Suku Polahi di Bidang Ketenagakerjaan &amp;quot;&#039;&#039;] PILAR Jurnal Hukum Philosophia, UNG JIlid 2 Nomor 1 Mei 2022&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;[https://ung.ac.id/formasi/people/197605202006041015 Samsi Pomalinago], [https://ung.ac.id/formasi/people/197607292006041001 Sukirman Rahim], (2020) , [https://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/10014/sukirman-rahim-buku-potret-etnografi-masyarakat-polahi.html &amp;quot;&#039;&#039;Potret Etnografi Masyarakat Polahi&#039;&#039;&amp;quot;],  (Gorontalo: Ideas Publishing)&amp;lt;/small&amp;gt; &lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Zainudin Soga, Aditya Fathoanh Toreh, Nur Shadiq Sandimula (&#039;&#039;&#039;2025),&#039;&#039;&#039; &amp;quot;&#039;&#039;&#039;Mobilitas Budaya: Perilaku Dan Bahasa &#039;&#039;Indigenous People Polahi&#039;&#039; Dalam Pemutakhiran Dan Penyusunan Sinkronisasi-Diakronisasi Gramatikal Gorontalo-Arab&#039;&#039;&#039;&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
#&amp;lt;small&amp;gt;Yasin Kulimba, Wawan K Tolinggi, Amelia Murtisari&#039;&#039;,&#039;&#039; (2019) &#039;&#039;[https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/AGR/article/view/9743 &amp;quot;Perilaku Komunitas Polahi Dalam Pemanfaatan Lahan Pertanian Di Desa Bina Jaya Kecamatan Tolangohula Kabupaten Gorontalo&amp;quot;]  AGRINESIA - Jurnal Ilmiah Agribisnis,&#039;&#039; UNG Vil 3, No 3&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Media&amp;diff=48</id>
		<title>Media</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Media&amp;diff=48"/>
		<updated>2026-06-11T03:53:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;MediaWiki has been installed.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Consult the [[mediawikiwiki:Help:Contents|User&#039;s Guide]] for information on using the wiki software&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Getting started&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [[mediawikiwiki:Special:MyLanguage/Manual:Configuration_settings|Configuration]] [[mediawikiwiki:Special:MyLanguage/Manual:Configuration_settings|settings list]]&lt;br /&gt;
* [[mediawikiwiki:Manual:FAQ|MediaWiki FAQ]]&lt;br /&gt;
* [https://lists.wikimedia.org/postorius/lists/mediawiki-announce.lists.wikimedia.org/ MediaWiki release mailing list]&lt;br /&gt;
* [[mediawikiwiki:Special:MyLanguage/Localisation#Translation_resources|Localise MediaWiki for your language]]&lt;br /&gt;
* [[mediawikiwiki:Manual:Combating_spam|Learn how to combat spam on your wiki]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Media&amp;diff=47</id>
		<title>Media</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ensiklopedipolahi.kamusgorontalo.com/index.php?title=Media&amp;diff=47"/>
		<updated>2026-06-11T03:45:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Admin: Created page with &amp;quot; &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;MediaWiki has been installed.&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  Consult the User&amp;#039;s Guide for information on using the wiki software.   &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Getting started&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  * Configuration     settings list * MediaWiki     FAQ * MediaWiki     release mailing list * Localise     MediaWiki for your language * Learn     how to combat spam on your wiki&amp;quot;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;MediaWiki has been installed.&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Consult the User&#039;s Guide for information on using the wiki software. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Getting started&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Configuration     settings list&lt;br /&gt;
* MediaWiki     FAQ&lt;br /&gt;
* MediaWiki     release mailing list&lt;br /&gt;
* Localise     MediaWiki for your language&lt;br /&gt;
* Learn     how to combat spam on your wiki&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Admin</name></author>
	</entry>
</feed>